Minuman itu dihidangkan dalam kondisi panas. Ditaburi irisan kelapa kecil-kecil berbentuk persegi. Mirip seperti toping.
Saat wartawan koran ini mencicipi, rasa pedas jahe nempel di lidah. Menjalar sampai ubun-ubun dan langsung menghangatkan badan. Rasa pedas itu dipadukan dengan rasa manis yang pas. Dihasilkan dari gula merah yang menjadi salah satu bahan.
Uniknya, di sela-sela pedas dan manis, muncul rasa gurih. Rasa gurih ini berasal dari percampuran santan. Juga potongan-potongan kelapa yang menjadi toping.
Silviana Safitri, salah satu pemilik warung yang menjual wedang coro di Desa Wates, Undaan, Kudus, menyebut, minuman itu pas untuk daya tahan tubuh. Sebab, kaya dengan rempah-rempah. Apalagi diminum saat kondisi pandemi Covid-19. Apalagi kondisi hujan. Sekaligus bisa menghangatkan badan.
”Sejak Covid-19 banyak yang mencari jamu buat daya tahan tubuh dan imunitas. Jadi, pada beli wedang coro," jelasnya. Cocok karo hawane maseeeh… (Cocok dengan udaranya mas).
Khasiat itu didapat karena wedang coro dibuat dari bahan-bahan herbal yang secara klinis teruji bagus untuk daya tahan tubuh. Seperti jahe, sereh, kembang lawang, gula merah, kayu manis, dan merica.
”Semua bahan itu direbus dengan air mendidih. Kemudian dicampuri santan," terangnya.
Wedang coro sendiri menurutnya merupakan salah satu minuman tradisional khas masyarakat Kabupaten Kudus. Khususnya Kecamatan Undaan. Masih dilestarikan hingga kini. Dari sisi historis, wedang itu berkaitan dengan tradisi pertanian di Kudus.
Karena biasanya diminum kala petani selesai panen dan tanam pada musim hujan. Sebab, dipercaya menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti masuk angin, demam, dan perut kembung, serta bisa menghangatkan tubuh.
”Selain itu, para petani di Undaan meyakini wedang coro bisa menghilangkan lelah dan kecapean," imbuhnya.
Sedangkan ditanya tentang nama ”coro”, karena membuatnya menggunakan coro atau dalam Bahasa Indonesia berarti cara. (tos/lin) Editor : Ali Mustofa