Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Guru di Kudus Ini Andalkan JKN untuk Kesehatan Keluarganya

Redaksi • Selasa, 25 Maret 2025 | 21:52 WIB

 

Ani Nafiatul Niayati, 38, seorang guru yang mengajar di SD 2 Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus terbantu Program JKN.
Ani Nafiatul Niayati, 38, seorang guru yang mengajar di SD 2 Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus terbantu Program JKN.

KUDUS – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan terus berkembang untuk memberikan manfaat positif bagi masyarakat luas dengan tetap memperhatikan pelayanan sesuai dengan transformasi mutu layanan yang cepat, mudah dan setara.

Salah satu peserta yang terbantu oleh Program JKN adalah Ani Nafiatul Niayati (38), seorang guru yang mengajar di SD 2 Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus ini mengaku memanfaatkan layanan JKN untuk jaminan kesehatannya.

Ditemui di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kudus setelah melakukan update data gaji, Ani, sapaannya, menceritakan awal mula dirinya terdaftar sebagai Peserta JKN.

“Saya sudah lama terdaftar menjadi Peserta JKN. Sebelumnya, saya dan keluarga terdaftar peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), yang iurannya setiap bulan ditanggung Pemerintah," kata Ani.

"Kemudian, mulai tahun 2023, setelah saya diangkat sebagai PPPK, kepesertaan saya dan keluarga beralih menjadi peserta PPU (Pekerja Penerima Upah) dan iurannya dipotong 1% dari gaji saya. Dan tadi saya dibantu petugas BPJS Kesehatan, baru saja update data gaji,” lanjutnya.

Sejak terdaftar sebagai peserta PBI, Ani sudah menggunakan JKN, salah satunya untuk kontrol kehamilan hingga persalinan anak pertamanya.

Terlebih saat itu, kehamilan Ani membutuhkan perhatian khusus, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Awalnya memang saya kontrol kehamilan di bidan, tetapi memasuki usia kehamilan dua bulan, hasil USG menunjukkan di perut saya terdapat dua telur. Padahal umumnya hasil USG kehamilan yang normal hanya ada satu telur. Waktu itu bidan pun bingung karena tidak bisa mengidentifikasi penyebabnya, apakah bayinya kembar atu terdapat kelainan,” jelas Ani.

Dengan kondisi tersebut, akhirnya bidan menyarankan Ani untuk kembali lagi di Puskesmas untuk melakukan konsultasi agar segera bisa ditemukan penyebabnya dan segera ditangani dengan cepat dan tepat.

“Berdasarkan saran bidan, akhirnya saya kembali ke Puskesmas, dari pihak Puskesmas langsung memberikan rujukan ke RSUD dr. Loekmonohadi untuk diperiksa lebih lanjut. Di Rumah Sakit, setelah diperiksa ternyata selain hamil, di perut saya juga ada kista, jadi dua telur di perut saya bukan bayi kembar, melainkan janin dan kista,” kata Ani tidak menyangka.

Dikarenakan kondisi tersebut, Ani rutin kontrol setiap bulan di rumah sakit. Sempat khawatir karena terdapat kista di perutnya yang tengah mengandung, namun akhirnya Ani merasa tenang karena Dokter memberitahukan bahwa kistanya akan diangkat sekaligus saat persalinan.

“Saya melahirkan di RSI Sunan Kudus, selama perawatan disana tidak ada kendala apapun, semua pelayanan baik, kista saya diangkat, persalinan saya berjalan lancar dan bayi saya laki-laki terlahir sehat dan normal,” ujar Ani.

Selain untuk persalinan, Anak pertama Ani, Naayif Biruni (6) sempat mendapatkan pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Umum (RSU) Kumala Siwi di usianya yang ke lima karena sakit demam berdarah. Saat itu dirinya sudah beralih kepesertaan sebagai PPU.

“Putra saya dirawat hampir satu minggu di RSU Kumala Siwi karena Demam Berdarah. Awalnya demam tinggi beberapa hari kemudian saya bawa berobat di Puskesmas Sidorekso. Setelah diperiksa semuanya, termasuk pemeriksaan laboratorium, anak saya positif Demam Berdarah. Akhirnya dari Puskesmas diminta untuk rawat inap disana atau di rumah sakit lain. Karena pertimbangan jarak yang lebih dekat, akhirnya saya memutuskan untuk rawat inap di RSU Kumala Siwi saja agar tidak kejauhan untuk bolak balik kerumah,” jelas Ani.

Selain untuk pengobatan anaknya, Ani juga pernah melakukan operasi kaki, dimana kakinya terdapat benjolan dan ternyata setelah diperiksa mengeluarkan cairan nanah.

“Dulu tahun 2018, saya juga sempat operasi kaki. Awalnya memang saya berobat dulu di Puskesmas Sidorekso, lalu saya dirujuk ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Waktu itu kaki saya terdapat benjolan di kaki saya dan akhirnya harus di operasi. Tapi setelah operasi itu ternyata kaki saya masih mengeluarkan nanah. Akhirnya saya dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh dan tersisa bekasnya saja,” kata Ani.

Berdasarkan pengalamannya menggunakan Program JKN baik sebagai peserta PBI maupun PPU, Ani merasa tidak ada perbedaan pelayanan sama sekali. Program JKN memberikan manfaat positif dalam hal kesehatan bagi dirinya dan keluarganya. Dirinya berharap bahwa kisahnya dapat diterima oleh banyak masyarakat agar Program JKN bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan yang mudah, cepat dan setara. (*)

 

Editor : Ali Mustofa
#masyarakat #bpjs kesehatan #persalinan #puskesmas #Kudus #program jkn