KUDUS - Pembelajaran Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) mulai dikenalkan secara nasional sejak jenjang taman kanak-kanak (TK).
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI meluncurkan program tersebut di PAUD Terpadu Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Kamis (3/9).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti mengatakan, program STEM nasional tersebut merupakan bagian dari implementasi kebijakan Presiden untuk memperkuat bidang STEM sekaligus mendukung komitmen Wajib Belajar 13 Tahun.
”Yang kami luncurkan pada pagi hari ini adalah program STEM nasional untuk anak-anak TK. Ini komitmen pemerintah untuk melaksanakn program belajar 13 tahun,” ujar Mu’ti, Kamis (3/9).
Ia menjelaskan, pengenalan STEM sejak usia dini bukan semata untuk memperluas akses anak terhadap pendidikan.
Lebih dari itu, pembelajaran tersebut diharapkan mampu membangun rasa ingin tahu, minat, serta kemampuan anak sejak usia dini.
Agar sesuai dengan karakteristik anak-anak TK, pembelajaran STEM dikembangkan melalui konsep 5M.
Konsep tersebut meliputi mudah, murah, menggembirakan, meaningful atau bermakna, serta mindful atau penuh kesadaran.
Di Kabupaten Kudus sendiri, sekitar 40 TK telah mulai menerapkan pembelajaran dengan pendekatan tersebut.
Dalam praktiknya, guru didorong memanfaatkan lingkungan alam maupun sosial yang berada di sekitar anak sebagai bagian dari proses belajar.
Mu’ti menambahkan, anak usia TK masih membutuhkan pengalaman belajar yang bersentuhan langsung dengan benda atau kondisi nyata.
Karena itu, materi pembelajaran sebaiknya menggunakan objek konkret yang dapat diamati dan diverifikasi menggunakan pancaindra.
Ia pun meminta guru tidak membebani anak TK dengan terlalu banyak materi atau konten pembelajaran.
Sebaliknya, anak perlu memperoleh ruang yang lebih luas untuk bergerak, bermain, berimajinasi, serta mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
”Untuk anak TK kurangi pemberian konten-konten, perbanyak ruang gerak imajinasi mereka untuk eksplorasi menjadi saintis hebat di masa depan,” ujarnya.
Selain mendorong pembelajaran yang menyenangkan, Mu’ti juga menekankan pentingnya pola pendidikan tanpa kekerasan.
Ia meminta para guru menghindari penggunaan kekerasan fisik ketika mendidik anak.
”Konsep matematika bisa dikenalkan lewat permainan, anak diajak melompat dari satu bentuk geometri ke bentuk lainnya,” ungkapnya.
Selain itu, media lagu juga dapat digunakan untuk mengenalkan berbagai konsep kepada anak.
Seperti judul lagu Balonku dinilai mampu mengenalkan numersi, sains, emosi, hingga warna.
Pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045, salah satu misi menuju Indonesia Emas 2045 adalah Transformasi Sosial.
Serta membangun manusia Indonesia yang sehat, cerdas, kreatif, sejahtera, unggul, dan berdaya saing, melalui pendidikan bermutu yang merata dan adaptif terhadap zaman. (gal)
Editor : Ali Mustofa