
JADI SOROTAN: Kepala SPPG Soditan Achmad Sholeh Syariffudin melintas di depan dapur yang berhenti beroperasi sementara kemarin.
REMBANG – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan, Lasem, dihentikan sementara alias disuspend menyusul adanya keluhan kesehatan pada sejumlah siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Sampel makanan yang disalurkan Rabu lalu — nasi, ayam bakar, lalapan, sambal, semangka, dan tempe mendoan — kini diuji laboratorium. Hasilnya baru bisa diketahui 14 hari mendatang.
Pantauan Jawa Pos Radar Kudus, Jumat kemarin dapur SPPG Soditan tak ada aktivitas. Para relawan yang biasa memasak libur total. Meski begitu, pihak dapur tetap terbuka memberikan keterangan kepada jurnalis yang menggali informasi, mulai proses pengecekan makanan, distribusi, hingga langkah dan komitmen menanggung biaya pengobatan penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional dapur pun tengah berjalan.
Kepala SPPG Soditan, Achmad Sholeh Syariffudin menuturkan distribusi MBG ke SMAN 1 Lasem (Smanela) dilakukan Rabu sekitar pukul 11.00. Sebelum makanan dikirim, tim SPPG dan PIC sekolah lebih dulu melakukan uji organoleptik atau penilaian menggunakan panca indra.
”Alhamdulillah untuk ayam, nasi, lalapan, sambal, dan semangka, setelah dicicipi hasilnya bagus. Setelah diantar ke Smanela, PIC sekolah juga ikut mencicipi dan nilai organoleptiknya tercatat bagus,” katanya saat ditemui di dapur SPPG.
Ia menjelaskan, kondisi imun tubuh siswa turut berpengaruh terhadap reaksi terhadap makanan. Kabar adanya keluhan baru diterima pihak dapur pada Kamis (4/9) pagi, sehari setelah MBG didistribusikan.
”Kita langsung ke Smanela begitu dapat informasi Kamis pagi. Menunya memang Rabu, tapi kejadiannya baru diketahui Kamis pagi,” ujarnya.
Pihak SPPG lantas menemui kepala sekolah SMAN 1 Lasem. Sekolah kemudian mengambil kebijakan memulangkan siswa lebih awal pada pagi hari.
”Kami informasikan ke Puskesmas Lasem. Ambulans dan petugas Dinkes juga datang ke sekolah. Tapi siswa banyak yang menolak naik ambulans dan enggan diperiksa ke puskesmas, mereka maunya langsung pulang. Akibatnya petugas puskesmas tidak bisa mengobservasi seluruh siswa yang terdampak,” bebernya.



