Situs Patiayam Kudus Didorong Naik Status Menjadi Cagar Budaya Nasional, Museum Prasejarah Mulai Dibidik

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:08 WIB
KAWAL: Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota DPR RI Lestari Moerdijat, (kanan) mendiskusikan terkait Situs Patiayam, Sabtu (15/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
KAWAL: Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota DPR RI Lestari Moerdijat, (kanan) mendiskusikan terkait Situs Patiayam, Sabtu (15/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Situs Patiayam yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, tengah didorong untuk memperoleh status sebagai cagar budaya tingkat nasional.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mulai menyiapkan sejumlah langkah bersama pemerintah provinsi agar peningkatan status kawasan yang menyimpan banyak peninggalan prasejarah tersebut dapat segera diwujudkan.

Upaya itu mengemuka dalam Diskusi Lapangan bertajuk Pengembangan Situs Patiayam Berbasis Integrasi Ekoarkeologi yang berlangsung di Situs Ngasinan, Patiayam, Sabtu (15/8).

Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian ekskavasi tahap keempat di Situs Ngasinan yang melibatkan sejumlah pihak.

Di antaranya MPR RI, BRIN, Yayasan Dharma Bhakti Lestari, serta Center for Prehistory and Ancient Studies.

Arkeolog Prof. Truman Simanjuntak menjelaskan, kawasan Patiayam memiliki kekayaan tinggalan prasejarah yang hingga kini masih terus diteliti.

Dalam ekskavasi terbaru, tim melakukan penggalian hingga kedalaman sekitar 1 hingga 1,5 meter.

Untuk menyingkap lapisan tanah yang menyimpan berbagai jejak kehidupan masa lampau.

Menurut Truman, area yang sedang diteliti tersebut sejatinya hanya sebagian kecil dari keseluruhan kawasan Situs Patiayam.

Karena itu, masih terbuka peluang ditemukannya berbagai tinggalan lain yang dapat memperkaya pengetahuan mengenai sejarah dan perkembangan peradaban manusia di kawasan tersebut.

Berpeluang Jadi Museum Situs

Hasil penelitian dan ekskavasi yang dilakukan di Patiayam tidak hanya ditujukan untuk kepentingan akademis.

Temuan-temuan tersebut dinilai dapat menjadi dasar pengembangan museum situs sekaligus sarana pembelajaran sejarah dan peradaban bangsa.

Truman menyampaikan bahwa keberadaan museum di kawasan Patiayam nantinya dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan hasil penelitian arkeologi.

Selain menjadi museum situs, kawasan tersebut juga berpeluang dikembangkan sebagai laboratorium kebangsaan dan ruang edukasi bagi masyarakat.

Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak hanya dapat melihat berbagai peninggalan prasejarah, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai perjalanan sejarah dan peradaban yang pernah berkembang di Indonesia.

“Ini bagian dari pemanfaatan hasil penelitian. Nanti ini menjadi semacam museum situs. Fungsi lain sangat memungkinkan sebagai laboratorium kebangsaan, sarana edukasi tentang sejarah dan peradaban bangsa,” ujarnya.

Butuh Dukungan Lintas Sektor

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai pengembangan Situs Patiayam membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Menurutnya, penelitian harus terus berjalan, tetapi penguatan dari sisi administrasi dan dukungan pemerintah daerah juga menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan status situs.

Ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan Patiayam sudah cukup kuat.

Namun, langkah tersebut perlu diikuti dengan gerakan di tingkat kabupaten dan daerah agar pengembangan kawasan dapat berjalan lebih optimal.

“Yang paling penting, pemerintah pusat sudah memberikan dukungan yang luar biasa. Memang kita juga harus bergerak di level kabupaten dan daerah sendiri,” katanya.

Dukungan pembiayaan juga mulai diupayakan melalui pokok-pokok pikiran (Pokir).

Harapannya, berbagai proses tersebut dapat bermuara pada pembangunan museum prasejarah di Patiayam yang nantinya menjadi pusat edukasi sejarah bagi masyarakat.

Jika status Patiayam berhasil ditingkatkan menjadi cagar budaya nasional, kawasan tersebut diharapkan semakin mendapat perhatian dalam aspek pelestarian, penelitian, edukasi, sekaligus pengembangan wisata berbasis sejarah dan budaya. (dik)

Editor : Ali Mustofa
Penelitian arkeologi pemkab kudus Lestari Moerdijat museum patiayam cagar budaya