JEKULO – Situs Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kembali didorong naik kelas menjadi cagar budaya tingkat nasional.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Diskusi Lapangan bertema Pengembangan Situs Patiayam Berbasis Integrasi Ekoarkeologi yang digelar di Situs Ngasinan, Patiayam Desa Terban, Sabtu (15/8).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tahap keempat ekskavasi di Situs Ngasinan.
Diskusi digelar melalui kolaborasi sejumlah pihak, di antaranya MPR RI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Dharma Bhakti Lestari (YDBL), serta Center for Prehistory and Ancient Studies (CPAS).
Kegiatan turut dihadiri Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota DPR RI Lestari Moerdijat, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, anggota DPRD Kudus dan DPRD Jawa Tengah, akademisi, dosen serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, Kepala Desa Terban, dan jajaran Pemkab Kudus.
Dalam diskusi lapangan, para peserta melihat langsung lokasi ekskavasi sekaligus potensi tinggalan prasejarah yang tersimpan di kawasan Patiayam.
Arkeolog Prof Truman Simanjuntak menjelaskan, proses penggalian di Situs Ngasinan masih terus membuka lapisan tanah yang menyimpan tinggalan masa lalu.
Kedalaman lapisan yang digali bahkan dapat mencapai sekitar satu hingga 1,5 meter.
Ia menerangkan, posisi temuan fosil juga berkaitan dengan kondisi permukaan tanah purba atau paleo-sol.
Karena itu, tulang-tulang yang ditemukan dapat terlihat berserakan mengikuti kemiringan oermukaan tanah pada masa ketika organisme tersebut mati.
“Ini kotak 2x3 meter, dengan permukaan yang miring mengikuti paleo-sol. Mengikuti permukaan tanah pada waktu manusia meninggal. Makanya ada tulang yang berserakan mengikuti permukaan tanah,” jelas Truman.
Menurutnya, area yang sedang diekskavasi hanyalah bagian kecil dari kawasan Situs Patiayam.
Potensi situs tersebut jauh lebih luas dan mencakup kawasan perbukitan Patiayam.
Dalam kesempatan itu, Truman juga menjelaskan penggunaan casting atau cetakan untuk menampilkan temuan fosil kepada pengunjung.
Benda yang dipamerkan di lokasi bukan fosil asli, melainkan cetakan yang dibuat dengan bentuk dan warna menyerupai aslinya.
Fosil asli, kata dia, telah diamankan di Museum Situs Lambanapu karena rentan mengalami kerusakan apabila terus ditempatkan di ruang terbuka dengan perubahan suhu panas dan dingin.
“Lebih tepat istilah cetakan daripada replika. Replika bisa berubah ukuran dari aslinya, bisa lebih kecil atau lebih besar. Cetakan sesuai dengan aslinya,” ujar Truman.
Menurut Truman, keberadaan cetakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemanfaatan hasil penelitian.
Ke depan, kawasan itu dapat dikembangkan menjadi semacam museum situs yang memungkinkan masyarakat melihat langsung hasil penelitian arkeologi.
Tidak hanya sebagai museum, kawasan tersebut juga dinilai berpotensi menjadi laboratorium kebangsaan dan sarana edukasi mengenai sejarah serta peradaban bangsa.
“Ini bagian dari pemanfaatan hasil penelitian. Nanti ini menjadi semacam museum situs. Fungsi lain sangat memungkinkan sebagai laboratorium kebangsaan, sarana edukasi tentang sejarah dan peradaban bangsa,” katanya.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, perhatian terhadap Patiayam perlu dilanjutkan dengan dukungan lintas sektor.
Menurutnya, kegiatan penelitian dan penggalian di kawasan tersebut telah dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Ia menyebut, pada tahun sebelumnya telah dilakukan dua kali penggalian di luar penelitian utama yng juga dipadukan dengan kegiatan kuliah lapangan mahasiswa Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya.
Lestari menilai Patiayam memiliki arti penting dalam perjalanan peradaban manusia.
Karena itu, keberadaan situs tersebut tidak cukup hanya dipertahankan sebagai lokasi penelitian, tetapi juga perlu dikembangkan menjadi pusat edukasii bagi masyarakat.
Ia menyampaikan pemerintah pusat telah memberikan dukungan terhadap pengembangan Patiayam.
Namun, penguatan di tingkat daerah juga diperlukan, terutama untuk memastikan proses pengusulan status cagar budaya dapat segera diselesaikan.
“Yang paling penting, pemerintah pusat sudah memberikan dukungan yang luar biasa. Memang kita juga harus bergerak di level kabupaten dan daerah sendiri,” ujarnya.
Lestari menyebut salah satu pekerjaan yang perlu didorong adalah penyelesaian aspek administrasi agar Situs Patiayam dapat naik peringkat menjadi situs nasional.
Selain itu, dukungan anggaran juga telah mulai diperjuangkan melalui pokok-pokok pikiran (Pokir).
Ia berharap seluruh proses tersebut dapat bermuara pada lahirnya museum purbakala di Kudus, khususnya museum prasejarah di kawasan Patiayam.
Menurutnya, keberadaan jejak kehidupan prasejarah di Patiayam menjadi alasan kuat agar penelitian terhadap kawasan tersebut terus dilanjutkan.
“Kita memiliki satu bagian yang luar biasa sangat penting dalam perjalanan peradaban manusia. Salah satu jejak kehidupan prasejarah itu ada di sini. Nah, itu yang harus terus diteliti lagi,” tegasnya.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan Pemkab Kudus siap proaktif mendorong Situs Patiayam mendapatkan status cagar budaya yang lebih tinggi.
Ia mengapresiasi perhatian Lestari Moerdijat terhadap pengembangan Patiayam.
Menurutnya, Pemkab Kudus sebelumnya telah mencanangkan Situs Patiayam sebagai Cagar Budaya Daerah dan mengusulkannya ke tingkat Provinsi Jawa Tengah.
“Pemkab akan proaktif untuk bisa menjadi situs Patiayam nasional,” kata Sam’ani.
Menurutnya, proses peningkatan status tersebut akan dilakukan secara bertahap.
Pemkab Kudus akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar tim dapat melihat langsung kondisi dan kelayakan Patiayam sebagai cagar budaya nasional.
Sam’ani menilai Patiayam memiliki potensi besar untuk dikembangkan bukan hanya dari sisi arkeologi, tetapi juga pendidikan dan pariwisata berbasis geologi serta lingkungan.
Ia mengaitkan kawasan Patiayam dengan sejarah Gunung Muria dan kekayaan keanekaragaman hayati yang tersimpan di dalamnya.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal pengembangan kawasan sebagai bagian dari edukasi dan geopark.
“Patiayam ini sangat menarik. Gunung Muria ounya sejarah terpisah dari Jawa, dan di dalamnya ada keanekaragaman hayati, termasuk purbakala. Ini sangat menarik sebagai edukasi, sebagai geopark, termasuk sebagai pembelajaran kita semuanya,” jelasnya.
Pemkab Kudus juga menyiapkan dukungan terhadap pembenahan kawasan Museum Patiayam.
Sam’ani menyebut perbaikan museum akan didukung Kementerian Kebudayaan, sementara pemerintah daerah akan menangani sejumlah infrastruktur pendukung di sekitar kawasan.
“Pemkab akan memperbaiki jalan setapak, termasuk lingkungan di sekitar Museum Patiayam,” katanya. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra