KUDUS - Nasi jangkrik merupakan makanan khas Kudus yang belum terlalu populer seperti kuliner khas Kudus lainnya seperti soto Kudus, sate kerbau, lentog tanjung, dan opor Sunggingan.
Masyarakat Kudus meyakini bahwa nasi jangkrik merupakan makanan favorit Sunan Kudus.
Nama asal usul nasi jangkrik sendiri hingga saat ini masih menjadi pertanyaan dan tidak ada sumber valid mengenai kebenarannya.
Dari mulut ke mulut, nama nasi jangkrik merupakan hasil celetukan Kyai Telingsing yang merasa nikmat ketika memakan hidangan yang disuguhkan oleh istri Sunan Kudus.
Konon, Kyai Telingsing menyeletuk "Jangkrik, masakan iki enake pol" yang artinya "Jangkrik, masakan ini enak sekali".
Bagi masyarakat Jawa, kata "jangkrik" bisa digunakan untuk mengekspresikan sesuatu secara halus.
Versi lain menyebutkan bahwa penamaan nasi jangkrik berawal dari taburan bawang goreng diatas nasi yang sekilas dianggap seperti jangkrik.
Dalam tradisi masyarakat Kudus, nasi jangkrik rutin diberikan pada 10 Suro di pelataran Menara Sunan Kudus.
Acara buka luwur juga menjadi acara rutinan masyarakat Kudus sebagai momentum kebersamaan di bulan Suro.
Pembagian nasi jangkrik dilakukan oleh panitia dengan membagi jalur dua antrian, yakni laki laki dan perempuan.
Dalam kegiatan ini, panitia telah menyiapkan sekitar 30.000 lebih nasi jangkrik untuk dibagikan kepada masyarakat.
Pembagian nasi jangkrik ini sendiri juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling berbagi dan gotong royong terhadap sesama.
Bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan nasi jangkrik merupakan sumbangan sukarela dari masyarakat, baik dalam bentuk uang, beras, bumbu, dan lainnya.
Setidaknya 1000 relawan atau perewang juga dilibatkan dalam kegiatan ini, sehingga bisa dibilang, tradisi buka luwur merupakan aksi sosial masyarakat.
Dalam suasana kebersamaan, masyarakat Kudus merayakan dengan rasa penuh syukur dan berharap keberkahan Sunan Kudus senantiasa menyertai mereka.
Editor : Ali Mustofa