KUDUS - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof. Abdul Mu'ti, mengapresiasi peluncuran International Class Program (ICP) dan pembangunan lantai III Kampus 2 SD Aisyiyah Multilingual Darussalam (SDA Mulida) Kudus.
Menurutnya, kehadiran kelas internasional di lingkungan pedesaan menjadi bukti bahwa anak-anak desa juga berhak memperoleh akses pendidikan berstandar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu'ti saat meresmikan Launching International Class Program (ICP) dan Pembangunan Lantai III Kampus 2 SDA Mulida di Jalan Kaliwungu.
Program internasional itu dikembangkan melalui kerja sama dengan Cambridge sebagai mitra pelaksanaan kurikulum internasional.
“Saya tentu saja merasa sangat berbangga dan berbahagia pada kesempatan ini karena ada kelas internasional di desa yang kanan-kirinya semuanya masih sawah,” ujar Abdul Mu'ti.
Menurutnya, program seperti itu penting untuk membuka akses yang lebih luas bagi anak-anak desa agar memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak di kota dalam memperoleh pendidikan berkualitas dan berstandar internasional.
Abdul Mu'ti juga menepis anggapan bahwa keberadaan kelas internasional tumpang tindih dengan berbagai program pendidikan yang saat ini dijalankan pemerintah.
“Dengan tegas saya jawab tidak,” katanya saat menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan tumpang tindih dengan program pendidikan nasional yang tengah dikembangkan pemerintah.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini memiliki sejumlah skema pendidikan dengan sasaran berbeda, mulai dari sekolah reguler, Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sekolah unggul Garuda, sekolah unggul transformasi, hingga sekolah nasional terintegrasi.
Menurutnya, masing-masing program memiliki segmen tersendiri sehingga saling melengkapi dalam memperluas akses pendidikan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia.
“Program seperti ini tidak tumpang tindih. Masing-masing memiliki segmen dan sasaran yang berbeda,” tegasnya.
Abdul Mu'ti menjelaskan, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari kelompok masyarakat miskin yang membutuhkan layanan pendidikan khusus dengan sistem berasrama. Sementara sekolah unggul ditujukan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata.
Adapun sekolah internasional yang dikembangkan Muhammadiyah dan Aisyiyah, menurutnya, merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan identitas keislaman dan kebangsaan.
"Kenapa internasional? Karena memiliki misi memajukan Indonesia. Kami harus menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan misi itu di berbagai belahan dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan konsep internasional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa asing.
“So it is not only about language. Tidak hanya bahasa saja, tetapi juga soal kemampuan, soal mental, dan soal kesiapan,” katanya.
Abdul Mu'ti mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lahirnya sekolah multilingual tersebut. Ia menyebut gagasan pendiriannya berawal dari diskusi bersama sejumlah tokoh Muhammadiyah agar menghadirkan sekolah yang memiliki kekhasan dan mampu menjawab tantangan zaman.
Lebih jauh, ia berharap program internasional dapat menjadi sarana bagi anak-anak desa untuk memiliki cita-cita besar dan menembus panggung dunia.
“Program internasional ini sebenarnya memfasilitasi bagaimana anak-anak desa ini punya mimpi-mimpi besar untuk menjadi tokoh-tokoh besar,” ujarnya.
Menteri asal Kudus itu juga membagikan kisah masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan desa. Ia mengaku tidak pernah membayangkan dapat menjadi menteri dan berkeliling ke berbagai negara.
“I never imagine in my childhood that I will become a minister and I could travel around the world,” ungkapnya.
Menurutnya, pendidikan merupakan jalan yang memungkinkan seseorang melampaui batas yang sebelumnya dianggap mustahil.
“Pendidikan membuat kita bisa mencapai sesuatu yang melampaui apa yang pernah kita bayangkan. Itulah arti pentingnya pendidikan,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Bidang Sarana dan Prasarana SDA Mulida, Ulin Ni’am, menjelaskan persiapan pembukaan International Class Program telah dilakukan sejak sekitar satu tahun terakhir.
“Persiapan ini memang sudah satu tahun kemarin. Itu memang arahan dari beliau sendiri, Pak Mu'ti, untuk segera membuat kelas ICP,” katanya.
Selain mempersiapkan kurikulum dan sarana pembelajaran, sekolah juga mendapatkan bantuan meja dan kursi dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang disalurkan melalui Lazismu Kudus.
Untuk tahun ajaran mendatang, SDA Mulida membuka satu kelas ICP dan tiga kelas reguler untuk peserta didik kelas I.
“Kita baru membuka satu kelas untuk ICP, yang tiga reguler. Jadi kelas satu tahun depan ada empat rombel, satu ICP dan tiga reguler,” jelas Ulin.
Setiap kelas akan diisi maksimal 28 siswa. Menurutnya, tidak ada persyaratan khusus bagi calon peserta didik yang ingin bergabung dalam kelas internasional tersebut.
“Tidak ada persyaratan khusus. Prosesnya alami saja,” ujarnya.
Selain meluncurkan ICP, SDA Mulida juga memulai pembangunan lantai 3 Kampus 2 sebagai bagian dari pengembangan fasilitas pendidikan. Fasilitas baru tersebut nantinya akan digunakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar sekaligus pengembangan program-program unggulan sekolah. (san)
Editor : Mahendra Aditya