Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pedagang Kaki Lima Sekolah di Kudus Keluhkan Omzet, Pendapatan Masih Belum Pulih

Ali Mustofa • Kamis, 11 Juni 2026 | 11:39 WIB
JAJANAN: Pedagang cilok saat melayani pembeli di belakang SMP 2 Kudus. Keluhkan omzet menurun. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)
JAJANAN: Pedagang cilok saat melayani pembeli di belakang SMP 2 Kudus. Keluhkan omzet menurun. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

KUDUS – Para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitar kawasan sekolah di Jalan Menur, belakang SMP 2 Kudus, masih berupaya mempertahankan penjualan mereka di tengah kondisi yang belum stabil.

Sebagian besar pedagang kini tidak hanya mengandalkan siswa, tetapi juga pembeli dari pengguna jalan yang melintas serta perpindahan lokasi jualan ke titik lain.

Langkah tersebut dilakukan agar dagangan tetap habis setiap hari.

Namun, sejumlah PKL mengaku pendapatan mereka cenderung menurun sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Kondisi siswa yang sudah mendapatkan makanan di sekolah membuat mereka lebih hemat saat membeli jajanan.

Salah satu pedagang cilok, Purwadi, menyampaikan bahwa terjadi perubahan pola belanja siswa yang cukup terasa.

Jika sebelumnya satu pembelian bisa mencapai Rp5.000, kini rata-rata hanya sekitar Rp3.000.

“Kalau dilihat ramai, tetap ramai sampai antre. Tapi sekarang uang belanjanya turun. Anak-anak rata-rata cuma beli Rp3.000 karena sisa uang saku. Dulu bisa beli saat istirahat kedua, sekarang sudah diatur karena ada MBG,” ujarnya.

Purwadi menjual berbagai jenis jajanan seperti cilok telur, makaroni telur, hingga mie telur dengan variasi rasa.

Harga jualnya pun menyesuaikan daya beli siswa, mulai dari Rp2.000. Ia mengaku masih terbantu dari pembeli lain di luar lingkungan sekolah.

“Kalau hanya mengandalkan siswa, agak berat. Saya juga terbantu dari orang yang lewat. Bahkan kadang harus pindah lokasi jualan sore di TPQ supaya tetap habis,” jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan Kusnadi, pedagang telur gulung yang biasa berjualan di sekitar MI Al Mannar Kudus.

Ia menyebut perubahan kebiasaan jajan siswa berdampak langsung pada omzet harian.

“Sebelum ada MBG, siswa bebas jajan saat istirahat. Sekarang lebih dibatasi karena sudah makan di kelas,” katanya.

Kusnadi juga mengeluhkan kenaikan harga bahan baku yang membuat kondisi semakin berat.

Ia sempat mencoba menaikkan harga jual menjadi Rp2.000 per tusuk, namun justru membuat pembeli berkurang.

“Kalau naik, pembeli malah sepi. Akhirnya balik lagi harga lama, tapi pendapatan jadi pas-pasan,” ujarnya.

Ia menambahkan, adanya hari Sabtu tanpa program MBG sedikit membantu meningkatkan penjualan.

Dalam kondisi normal, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp500 ribu per hari, namun sebelumnya dapat menembus hingga Rp1 juta saat kondisi masih stabil.

“Sekarang sudah berbeda, sampai sore pun hasilnya tidak seperti dulu,” pungkasnya. (san)

Editor : Ali Mustofa
#pola belanja siswa #Kudus #program mbg #pengguna jalan #pedagang