Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Suasana Desa Tanjungkarang Kudus Mendadak Jadi Kampung Tempo Doeloe, Ini Pemicunya

Ali Mustofa • Senin, 8 Juni 2026 | 12:19 WIB
KULINER KHAS: Peserta kirab memikul keranjang bambu wadah lentog Tanjung yang diarak mengikuti rute kirab di Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus, kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
KULINER KHAS: Peserta kirab memikul keranjang bambu wadah lentog Tanjung yang diarak mengikuti rute kirab di Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus, kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Suasana Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, tampak berubah menjadi nuansa masa lalu saat ratusan warga mengikuti Kirab Lentog Tanjung bertema “Tanjungkarang Tempo Doeloe”.

Dalam kegiatan ini, sekitar 700 peserta turut ambil bagian dengan mengenakan pakaian tradisional jadul, membawa berbagai jajanan khas tempo dulu, serta menampilkan permainan rakyat.

Acara budaya tersebut menjadi salah satu upaya pelestarian tradisi sekaligus pengenalan kuliner khas desa kepada masyarakat luas.

Kirab berlangsung meriah sejak siang hari dan melibatkan tujuh Rukun Warga (RW), tokoh masyarakat, tokoh agama, pelajar, serta berbagai elemen warga lainnya.

Sepanjang rute kirab, masyarakat tampak memadati jalan untuk menyaksikan berbagai atraksi yang ditampilkan peserta.

Rombongan kirab bergerak dari kawasan timur Kelenteng Hok Tik Bio Tanjungkarang, kemudian menuju arah utara hingga ke Proliman Jalur Lingkar Selatan, sebelum akhirnya kembali ke pusat kuliner Lentog Tanjungkarang.

Kepala Desa Tanjungkarang, Sumarno, menjelaskan bahwa tema “Tempo Doeloe” diangkat sebagai pengingat perjalanan sejarah desa dari masa ke masa.

Ia menekankan pentingnya menghargai jasa para pendahulu yang telah membangun desa hingga berkembang seperti sekarang.

“Melalui tema ini, kami ingin masyarakat mengenang masa lalu sekaligus melakukan evaluasi diri. Yang kurang baik diperbaiki, yang sudah baik dipertahankan, dan yang terpenting jangan melupakan pendahulu,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa sebagian besar peserta berusaha menampilkan nuansa jadul, tidak hanya dari kostum tetapi juga dari sajian makanan tradisional yang dibagikan secara gratis kepada pengunjung.

Kuliner tersebut berasal dari produksi warga setempat sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi lokal.

Menurutnya, pelaksanaan tahun ini terasa lebih semarak karena digelar pada siang hari, sehingga partisipasi pelajar lebih banyak terlihat dibandingkan tahun sebelumnya.

Berbagai pertunjukan turut memeriahkan acara, mulai dari arak-arakan bakul lentog, barongsai, drumband, permainan tradisional, hingga tarian daerah.

Seluruh rangkaian ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang memadati sepanjang jalur kirab.

Sumarno menambahkan, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM lokal.

Saat ini terdapat sekitar 152 pelaku usaha lentog di Desa Tanjungkarang yang ikut merasakan dampak positif dari kegiatan tersebut.

Camat Jati, Muhammad Zainuddin, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kirab budaya ini.

Menurutnya, kegiatan yang memadukan budaya dan kuliner khas daerah berpotensi menjadi daya tarik wisata baru di Kabupaten Kudus.

“Ini kegiatan yang sangat positif. Semoga bisa berkembang menjadi destinasi wisata budaya sekaligus memperkenalkan lentog Tanjungkarang lebih luas,” ujarnya.

Salah satu warga, Abdul (25), mengaku sangat menikmati acara tersebut.

Ia menilai kirab budaya seperti ini selalu dinantikan karena tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengenalkan kembali jajanan tradisional kepada generasi muda. (dik)

 
Editor : Ali Mustofa
#kuliner khas desa #kamung tempo doeloe #kirab lentog tanjung #generasi muda #kirab budaya