KUDUS – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kudus direncanakan akan diseragamkan atau distandarkan.
Usulan tersebut datang dari Ketua Satgas MBG Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, dan saat ini masih menunggu persetujuan dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Bellinda menjelaskan, sebelumnya telah dilakukan audiensi dengan BGN yang menghasilkan sejumlah kesepakatan awal.
Salah satunya adalah rencana penyelarasan menu MBG yang akan disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kudus.
“Dari hasil audiensi sebelumnya sebenarnya sudah ada titik temu. Namun karena ada dinamika terbaru di BGN, rencana ini akan kami laporkan kembali setelah kondisi lebih stabil,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini proses pengajuan standarisasi menu masih terus berjalan.
Informasi yang diterima dari pusat, dokumen tersebut tinggal menunggu persetujuan dan tanda tangan dari Kepala BGN.
Rencana standarisasi ini juga akan melibatkan kerja sama antara seluruh SPPG di Kudus dengan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) dalam penyusunan dan pengawasan menu.
Nantinya akan disiapkan beberapa pilihan menu yang dapat dipilih masing-masing dapur SPPG sesuai ketentuan.
“Kami siapkan beberapa alternatif menu. Jadi tidak harus seragam setiap hari. Misalnya hari ini soto, tidak semua harus soto. Dapur bisa memilih dari menu yang sudah disediakan,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Kudus juga berencana memberikan pelatihan kepada relawan dapur dan pengelola SPPG agar penyajian makanan tetap aman, menarik, serta memenuhi standar gizi yang ditetapkan.
Terkait produk susu yang diberikan dalam program MBG, Bellinda mengingatkan agar pihak dapur tidak sembarangan memilih.
Menurutnya, kandungan gizi harus menjadi perhatian utama, bukan sekadar merek atau kemasan produk.
“Jangan hanya melihat merek atau kemasan, tapi juga harus dipastikan kandungan gizinya sesuai kebutuhan,” tegasnya.
Ia berharap, dengan adanya standarisasi menu ini, pelaksanaan program MBG yang merupakan bagian dari program Presiden Prabowo Subianto dapat berjalan lebih optimal dalam meningkatkan gizi anak dan ibu di Indonesia.
Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mampu meminimalkan risiko kejadian yang tidak diinginkan, termasuk kasus keracunan yang pernah terjadi di lingkungan sekolah.
“Harapannya, program MBG ini benar-benar bisa memberikan manfaat gizi yang optimal bagi anak-anak,” pungkasnya. (san)
Editor : Ali Mustofa