"Dulu saya sempat bingung, kalau sakit di Semarang harus bagaimana, sementara faskes saya masih terdaftar di Kudus. Tapi ternyata BPJS Kesehatan menyediakan kemudahan untuk pindah faskes, dan prosesnya tidak serumit yang saya bayangkan. Karena aktivitas saya memang lebih banyak di Semarang, akhirnya saya putuskan untuk pindah faskes supaya kalau sewaktu-waktu sakit, saya bisa langsung berobat tanpa harus menempuh perjalanan jauh pulang ke Kudus terlebih dahulu," ujar Kaila.
Ia menjelaskan, proses pemindahan faskes tergolong mudah dan tidak memerlukan waktu lama.
Kemudahan tersebut menjadi salah satu bentuk fleksibilitas layanan JKN yang mendukung mobilitas peserta, khususnya mahasiswa dan pekerja yang berada di luar domisili asal.
Menariknya, saat melakukan pemindahan faskes, Kaila baru mengetahui bahwa ibunya telah terdaftar sebagai peserta JKN segmen Peserta Bukan Penerima Upah Pemerintah Daerah (PBPU Pemda) yang iurannya ditanggung oleh pemerintah daerah. Sementara itu, Kaila sendiri terdaftar sebagai peserta mandiri.
"Jujur saya cukup terkejut sekaligus lega ketika mengetahui ibu saya ternyata sudah terdaftar sebagai peserta PBPU Pemda. Selama ini kami tidak terlalu paham soal segmen-segmen kepesertaan JKN, tapi ternyata tanpa saya sadari, pemerintah sudah mendaftarkan ibu saya. Itu benar-benar membantu sekali bagi keluarga saya, terutama untuk kebutuhan kesehatan yang kadang datangnya tidak terduga," ungkapnya.
Keberadaan Program JKN memberikan rasa aman bagi dirinya dan keluarga. Dirinya menilai program ini mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Pengalaman memanfaatkan layanan JKN juga ia rasakan saat menjalani pengobatan rawat jalan akibat sakit panas. Kaila mengaku proses pelayanan berjalan lancar, mulai dari pendaftaran hingga mendapatkan obat.
"Waktu itu badan saya tiba-tiba panas tinggi di tengah padatnya jadwal kuliah. Saya langsung pergi ke faskes dan memang agak khawatir awalnya, takut prosesnya panjang atau dipersulit. Tapi ternyata tidak sama sekali, petugasnya ramah, pendaftarannya cepat, dan saya langsung bisa ditangani oleh dokter. Tidak lama kemudian obat pun sudah di tangan saya. Rasanya lega sekali karena bisa segera beristirahat dan pulih," katanya.
Tenaga kesehatan yang menanganinya juga memberikan pelayanan yang baik dan tidak membedakan peserta JKN dengan pasien lainnya.
Hal ini semakin menguatkan kepercayaannya terhadap kualitas layanan yang diberikan.
Dengan kemudahan yang dirasakan, Kaila berharap Program JKN terus dikembangkan agar semakin memudahkan masyarakat, terutama generasi muda yang memiliki mobilitas tinggi.
"Buat saya pribadi, JKN ini benar-benar menjadi solusi nyata, bukan sekadar program di atas kertas. Sebagai mahasiswa yang hidup jauh dari orang tua dan harus mandiri, punya jaminan kesehatan itu membuat saya jauh lebih tenang. Saya berharap kedepannya Program JKN bisa terus ditingkatkan, baik dari sisi kemudahan akses maupun kualitas layanannya, supaya makin banyak anak muda seperti saya yang merasakan manfaatnya," tutupnya. (*)
Editor : Ali Mustofa