KOTA – Bunda Inklusi Kementerian Agama RI, Helmi Nasaruddin Umar, meresmikan Unit Layanan Disabilitas (ULD) madrasah secara serentak se-Jawa Tengah di MAN 2 Kudus, Rabu (29/4).
Momentum ini menegaskan komitmen menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif, adil, dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Peresmian tersebut dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Dharma Wanita Persatuan (DWP) dan Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Jawa Tengah.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi dalam membangun layanan publik berbasis keluarga dan inklusivitas.
Helmi menegaskan, kehadiran ULD bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan bagian dari arah pembangunan sumber daya manusia dan penguatan harmoni sosial.
Negara, menurutnya, harus hadir untuk seluruh warga tanpa terkecuali.
“Hari ini adalah hari kebahagiaan kita semua. Kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik. Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama, bukan belas kasihan, melainkan pemenuhan hak warga negara,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang yang aman, adil, dan bermartabat bagi anak-anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.
Layanan inklusif, lanjutnya, harus diwujudkan secara nyata, bukan sekadar wacana.
“Fasilitas harus dipenuhi, bukan hanya diucapkan. Kita bangun empati agar bisa melayani dengan hati. Mereka harus dihargai, didengar, dan dilayani sepenuh hati,” tegasnya.
Helmi juga menyoroti peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak.
Orang tua, kata dia, menjadi guru pertama yang menentukan arah tumbuh kembang anak.
“Keluarga yang harmonis akan melahirkan pribadi yang sehat. Memperkuat keluarga berarti memperkuat masa depan bangsa,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, Shoni Wardana, menyampaikan bahwa ULD hadir untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat, khususnya penyandang disabilitas yang masih membutuhkan perhatian lebih.
Menurutnya, madrasah di Kudus sebenarnya telah lebih dulu menerapkan layanan inklusi dengan menerima peserta didik disabilitas, terutama yang memiliki keterbatasan fisik namun tetap mampu mengikuti pembelajaran.
“Meski baru diresmikan secara resmi, praktik layanan inklusi sudah berjalan. Ke depan, kami dorong agar seluruh madrasah menyiapkan sistem layanan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Kepala MAN 2 Kudus, Ali Musyafak, menambahkan bahwa penunjukan MAN 2 Kudus sebagai lokasi peresmian karena telah memiliki fasilitas ULD yang representatif.
Selama ini, pihaknya juga melayani siswa dan masyarakat penyandang disabilitas.
“Sudah ada satu hingga dua siswa disabilitas yang kami layani. Proses pembelajaran masih bisa di-cover guru yang ada, sehingga belum membutuhkan tenaga spesialis,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depan MAN 2 Kudus dapat menjadi rujukan layanan pendidikan inklusif yang semakin dipercaya masyarakat.
Menurutnya, peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan penguatan dari praktik yang telah berjalan.
“Ini bukan hanya seremonial, karena layanan inklusi di sini sudah berjalan dan akan terus kami kembangkan,” tandasnya. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra