Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Empat Kali Operasi, JKN Bantu Guru TK Ini Berjuang Lawan Tumor Otak

Ali Mustofa • Senin, 30 Maret 2026 | 11:15 WIB
Ernawati Ningsih
Ernawati Ningsih

KUDUS — Setiap pagi, Ernawati Ningsih (44) menyambut kedatangan anak-anak TK dengan senyum hangatnya.
Tak banyak yang tahu, di balik kesehariannya sebagai guru TK, perempuan asal Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus ini menyimpan perjuangan panjang melawan tumor otak yang telah memaksanya empat kali berbaring di meja operasi.

Segalanya bermula dari keluhan yang tampak biasa. Pusing yang awalnya ia kira efek kelelahan setelah seharian mengajar ternyata tak kunjung menghilang, hingga mengharuskannya dirujuk ke rumah sakit.

"Awalnya saya sering pusing, saya pikir biasa saja, mungkin karena kecapekan. Sudah minum obat warung tidak membaik, lalu berobat ke Puskesmas beberapa kali hingga akhirnya dirujuk ke RS Aisyiyah Kudus," kenang Erna.

Setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan, dokter menyatakan Erna menderita tumor otak.

Karena fasilitas di RS tersebut belum memadai untuk penanganan lebih lanjut, ia dirujuk ke RS Mardi Rahayu Kudus.

Di sinilah operasi pertamanya berlangsung, berat dan panjang. Dokter berdiri selama sembilan jam demi mengangkat tumor berukuran tujuh sentimeter.

Meski operasi berhasil, tumor belum terangkat seluruhnya dan dokter menyarankan operasi lanjutan.

"Jujur saat itu saya tidak siap untuk operasi lanjutan dan mencoba alternatif lain melalui obat herbal, berharap tumornya hilang. Setelah beberapa waktu berlalu, saya berpikir saya harus operasi lagi karena kadang masih terasa pusing," ujar Erna.

Ketika hendak menjalani operasi kedua, hasil CT Scan menunjukkan ukuran tumor tidak berubah.

Namun ada temuan baru yang lebih mengkhawatirkan, yaitu terdapat cairan di kepala yang harus segera ditangani dengan pemasangan selang secara permanen.

"Operasi kedua, dokter memasang selang dari kepala ke tempat pembuangan secara permanen, seumur hidup, karena terdapat cairan di kepala seperti orang yang menderita hidrosefalus, jadi supaya kepala tidak membesar harus selalu dibuang," cerita Erna tabah.

Ujian demi ujian terus datang. Sejak operasi pertama, tulang tempurung kepala Erna diangkat dan dititipkan di dalam perutnya sendiri agar tetap mendapat nutrisi, dengan rencana dikembalikan saat operasi terakhir.

Namun harapan itu kandas, tempurung tersebut ternyata keropos dan tidak bisa digunakan kembali.

Tempurung buatan kemudian dipasang sebagai pengganti, namun terpaksa dilepas karena kulit kepalanya terlalu tipis dan berisiko infeksi.

Erna pun terpaksa menjalani kesehariannya tanpa pelindung kepala, namun tetap hadir mengajar di kelas seperti biasa.

"Saya menjalani hari-hari tanpa tempurung kepala dan tetap mengajar seperti biasa, alhamdulillah sampai saat ini masih aman saja. Setelah operasi terakhir, dokter menyatakan bahwa tumor saya sudah hilang sepenuhnya," ujarnya sambil tersenyum penuh syukur.

Cobaan ternyata tak berhenti pada dirinya sendiri. Anak sulung Erna mengalami benjolan di kaki akibat benturan balok saat bermain di sekolah.

Sakit di kakinya tak kunjung sembuh meski sudah dua kali dioperasi, hingga akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit di Semarang untuk penanganan lebih lanjut.

"Awalnya kaki anak saya terbentur balok pada waktu sekolah. Sudah dioperasi di RS Aisyiyah Kudus, tapi benjolan masih tetap ada. Kemudian dirujuk ke RS Islam Sultan Agung Semarang, sampai sekarang masih rutin kontrol enam bulan sekali," ujarnya.

Di tengah semua cobaan itu, Program JKN hadir sebagai penjamin layanan kesehatan keluarganya.

Sebagai peserta yang iurannya dibiayai pemerintah, seluruh biaya pengobatan Erna, termasuk empat kali operasi kepala yang ditaksir mencapai ratusan juta, hingga perawatan sang anak, tidak sepeser pun harus ia tanggung sendiri.

"Alhamdulillah semua ditanggung oleh Program JKN. Saya harap BPJS Kesehatan tetap ada, dan untuk peserta yang sehat dan mampu, semoga diberikan keikhlasan untuk membantu yang sakit dan tidak mampu dengan rutin membayar iuran, karena prinsip gotong royong sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan," tuturnya tulus. (*)

Editor : Ali Mustofa
#Iuran #rumah sakit #tumor otak #guru tk #program jkn