KUDUS – Sosok Chairman PT Djarum, Michael Bambang Hartono, dikenang sebagai pribadi yang murah hati oleh keluarga, sahabat, hingga relasi bisnisnya.
Kesaksian itu disampaikan oleh sahabat almarhum, Harjanto Halim, pengusaha di balik perusahaan minuman kemasan Marimas, usai memberikan penghormatan terakhir di GOR Djarum Kudus.
Harjanto menuturkan bahwa dirinya telah lama mengenal almarhum sebagai pribadi yang tidak hanya sukses dalam bisnis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang besar.
Ia menyebut, Michael bersama sang adik, Robert Budi Hartono, dikenal luas sebagai pengusaha yang kerap memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Salah satu kisah yang paling membekas adalah ketika almarhum menyumbangkan lahan seluas enam hektare untuk pengembangan Sekolah Karangturi di Semarang.
Menurut Harjanto, bantuan tersebut bukan sekadar donasi biasa.
Nilai pembangunan gedung SMP dan SMA yang berdiri di atas lahan tersebut sangat besar pada masanya.
Menariknya, almarhum tidak pernah menuntut balasan apa pun. Ia hanya berpesan agar sekolah tersebut dijaga dan terus dikembangkan.
“Beliau alumni di sana. Pesannya sederhana: tolong jaga sekolah itu,” kenang Harjanto, sembari mengucapkan terima kasih atas jasa almarhum dalam memajukan dunia pendidikan.
Kenangan lain datang dari kebersamaan mereka di dunia olahraga bridge.
Harjanto mengaku beberapa kali mendampingi almarhum bertanding. Dedikasi Michael pada olahraga kartu tersebut dinilai luar biasa.
Bagi Harjanto, kehilangan sosok sahabat sekaligus panutan itu terasa sangat mendalam.
Hubungan keduanya telah terjalin sejak lama. Pada masa akhir hidupnya, Michael lebih banyak tinggal di Singapura demi memudahkan proses pengobatan.
Meski demikian, komunikasi dan pertemuan keduanya tetap terjaga.
Harjanto menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang santai, ceria, dan jauh dari kesan rumit.
Kesederhanaan keluarga Hartono menjadi hal yang paling ia ingat.
Bahkan, ada kisah kecil yang selalu membuatnya tersenyum saat mengenang momen reuni sekolah.
Saat itu, almarhum membeli sesuatu di stan bazar dan tetap meminta uang kembalian.
Hal sederhana itu justru membuat Harjanto terkejut, karena menunjukkan betapa rendah hati sosok tersebut.
Di akhir perbincangan, Harjanto berharap kepergian Michael Bambang Hartono dapat melahirkan lebih banyak pengusaha yang bekerja nyata untuk Indonesia tanpa perlu banyak bicara.
Ia mengibaratkan kehidupan almarhum seperti pepatah: pohon yang tumbuh tidak menimbulkan suara, tetapi ketika tumbang, suaranya terdengar sangat keras. (gal)