Dari ambulans gratis hingga perlindungan pekerja rentan, pemerintah daerah berupaya memastikan masyarakat merasa aman sejak lahir hingga akhir hayat.
Layanan ambulans gratis 24 jam menjadi salah satu program unggulan. Ketika sirine berbunyi di tengah malam, layanan itu hadir tanpa memungut biaya.
Bagi keluarga dalam kondisi darurat medis, kehadiran ambulans bukan sekadar fasilitas transportasi, melainkan bentuk kepedulian nyata pemerintah di saat paling genting.
Perlindungan sosial juga diperluas melalui santunan kematian sebesar Rp 1,5 juta bagi keluarga berduka.
Di sektor kesehatan, program Universal Health Coverage (UHC) BPJS Kesehatan serta perlindungan BPJS Ketenagakerjaan menjangkau ribuan pekerja rentan.
Pada 2025, Pemkab Kudus meng-cover 30.264 pekerja melalui BPJS Ketenagakerjaan.
”Alhamdulillah tahun 2025 kita meng-cover 30.264 pekerja. Semoga dengan adanya backup BPJS Ketenagakerjaan ini mereka merasa aman dan tenang karena ada jaminan kecelakaan kerja maupun jaminan kematian. Bahkan anak-anak mereka juga mendapat beasiswa kuliah sampai selesai,” ujar Sam’ani.
Program sosial lainnya meliputi bantuan persalinan bagi ibu melahirkan, bedah rumah gratis untuk warga kurang mampu, hingga pemberdayaan difabel dan lansia.
Penanganan stunting ditegaskan sebagai investasi jangka panjang demi memastikan generasi Kudus tumbuh sehat dan produktif.
Di bidang pendidikan, perhatian diberikan melalui tunjangan kesejahteraan guru swasta dan madin sebesar Rp 1 juta, serta insentif bagi tenaga kependidikan.
Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pendidik, tetapi juga memperkuat peran sosial mereka dalam membangun karakter generasi muda.
Sementara itu, UMKM didorong naik kelas lewat pelatihan wirausaha bagi santri, generasi Z, dan milenial agar siap bersaing di era digital.
Di sektor ekonomi, Sam’ani menegaskan industri rokok selama ini menopang sekitar 75 persen perekonomian daerah.
Namun ketergantungan tersebut membuat Kudus rentan terhadap kebijakan yang membebani industri tembakau.
Karena itu, pemerintah mendorong diversifikasi usaha. Sejumlah perusahaan rokok mulai merambah sektor makanan dan minuman sebagai alternatif pertumbuhan baru dan perluasan lapangan kerja.
Perhatian terhadap perlindungan warga juga terlihat saat Tradisi Dandangan.
Lonjakan pengunjung tiap tahun mendorong pemerintah menertibkan tarif parkir agar seragam dan mencegah praktik getok palu.
Bellinda memastikan tarif sepeda motor dan mobil telah ditetapkan secara resmi demi kenyamanan masyarakat.
Modal usaha bagi pelaku ekonomi kreatif, UMKM, dan PKL turut digelontorkan.
Transformasi digital pelayanan publik dipercepat menuju sistem yang transparan dan bebas pungutan liar.
Selain itu, Bellinda juga memberikan bantuan logistik dan mainan anak untuk warga terdampak banjir di Kudus.
Ia turut hadir ditengah posko pengungsian untuk menyemangati dan menghibur warga.
Langkah-langkah ini menegaskan pembangunan di Kudus bukan semata membangun fisik, tetapi membangun rasa aman, agar setiap warga merasa hadir, diperhatikan, dan terlindungi dalam setiap fase kehidupannya. (dik/him)
Editor : Ali Mustofa