KUDUS — Banjir yang merendam Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, telah berlangsung selama sekitar 10 hari dan hingga Rabu (21/1) genangan air masih mencapai di atas lutut orang dewasa di sejumlah titik.
Kondisi terparah terpantau di sekitar kawasan SDN 4 Payaman, yang menjadi titik terdalam genangan.
Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas warga tetap berjalan di tengah keterbatasan.
Sejumlah warga terlihat bertahan di rumah masing-masing, ada yang menyiapkan makanan di teras, berjalan kaki menembus genangan untuk berangkat bekerja, hingga pulang dari berbelanja dengan membawa barang menggunakan perahu ban maupun ember plastik.
Tim kebencanaan juga terlihat menyusuri permukiman menggunakan perahu untuk membagikan makan siang kepada warga terdampak.
Bantuan tersebut diberikan kepada warga yang masih bertahan karena akses kendaraan roda dua maupun roda empat belum bisa dilalui.
Ami (46), warga RT 3 RW 6 Desa Payaman, mengungkapkan banjir di depan rumahnya sempat mencapai setinggi pinggang orang dewasa.
“Sekarang masih sekitar atas lutut, tapi kemarin lebih tinggi. Kami memilih bertahan di rumah dan tidak mengungsi,” ujarnya.
Ia menambahkan, banjir membuat akses transportasi lumpuh.
“Motor kami ungsikan ke tempat yang aman karena tidak bisa dipakai,” katanya.
Selain itu, dampak kesehatan juga mulai dirasakan keluarganya.
“Anak saya mengalami gatal-gatal, ayahnya juga agak tidak enak badan. Alhamdulillah sudah berobat,” lanjutnya.
Sementara itu, Zumrotun (37) mengaku banjir telah berlangsung sekitar 10 hari di wilayahnya.
Meski demikian, ia tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kemarin sempat sepinggang orang dewasa, sekarang sudah agak surut, tapi masih di atas lutut,” katanya.
Ia mengandalkan ban sebagai alat bantu untuk berjualan dan mengantar pesanan warga.
“Kalau tidak jualan, tidak ada pemasukan. Untuk belanja kebutuhan, saya jalan kaki sampai dua kilometer,” tuturnya.
Zumrotun mengaku tidak mengalami keluhan kesehatan selama banjir.
Sekretaris BPBD Kudus, Syarif Hidayah, menyampaikan bahwa genangan air perlahan mulai surut.
“Kemarin tercatat turun 23 sentimeter. Setiap sore kami lakukan pengukuran di lokasi, dan kami berharap sore ini kembali turun,” jelasnya.
Ia menjelaskan, upaya percepatan surutnya banjir dilakukan melalui kombinasi aliran sungai dan pemompaan.
“Air dialirkan melalui Sungai Bakinah Timur ke barat, masuk kolam retensi, kemudian melalui pintu air menuju Sungai Wulan. Selain itu, kolam retensi juga dipompa,” terangnya.
Menurut Syarif, banjir di Desa Payaman berdampak pada 884 jiwa, dengan 217 jiwa di antaranya mengungsi.
“Sebagian warga masih bertahan di rumah. Kami terus berupaya memenuhi kebutuhan warga, mulai dari nasi bungkus, logistik mentah, hingga dapur umum kecil di lokasi pengungsian,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya