KUDUS – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggandeng Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus untuk menghidupkan kembali dolanan anak tradisional yang kian tergerus modernisasi.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui Festival Dolanan Anak Tradisional yang digelar di kompleks Museum Situs Purbakala Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, pada Sabtu (22/11).
Suasana museum berubah menjadi ruang ekspresi budaya yang meriah, dipenuhi gelak tawa dan semangat permainan tempo dulu.
Festival tersebut tidak hanya menjadi ajang mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak, tetapi juga bagian dari aktivasi sarana dan prasarana kebudayaan serta pelestarian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
Melalui kegiatan ini, museum diharapkan mampu berfungsi lebih luas, bukan sekadar tempat menyimpan artefak.
Kepala Subdirektorat Pemeliharaan dan Pengembangan, Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Brahmantara, menegaskan pentingnya museum sebagai ruang publik untuk berekspresi budaya.
“Museum tidak hanya ruang koleksi, tetapi ruang hidup bagi budaya. Dolanan tradisional merupakan salah satu objek pemajuan kebudayaan, dan melalui festival ini museum menjadi ruang publik yang melestarikan OPK,” ujarnya.
Ia menyebut, permainan tradisional selama ini hanya muncul pada momen tertentu, sehingga keberadaannya makin jarang disentuh generasi muda.
Oleh karena itu, Kementerian Kebudayaan terus mendorong setiap desa menghidupkan kembali permainan masa kecil tersebut.
“Anak-anak sekarang sudah akrab dengan gawai, sehingga pemahaman mereka tentang dolanan tradisional menurun. Harapan kami, setiap desa bisa mengembalikan permainan tradisional ini ke kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Agus Susanto, menjelaskan bahwa ada sembilan jenis dolanan yang ditampilkan dalam festival.
Di antaranya gobak sodor, egrang, petak umpet, lompat tali, gedrik, betengan, setinan, gangsingan, hingga sendal teklek atau bakiak.
Para pelajar SMP dari berbagai sekolah menjadi pengisi utama permainan tersebut sehingga suasana semakin hidup.
“Dolanan tradisional merupakan salah satu dari 10 OPK yang belum tergarap optimal di Kudus. Karena itu, kita mulai menggiatkannya kembali agar tetap lestari,” jelas Agus.
Ia menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) agar sekolah-sekolah di Kudus menyediakan ruang maupun peralatan untuk permainan tradisional.
“Setiap sekolah harus punya area untuk dolanan tradisional. Peralatannya sederhana dan tidak memerlukan lahan luas,” tandasnya.
Melalui festival ini, Pemkab Kudus berharap pelestarian dolanan tradisional tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi menjadi gerakan rutin yang terus tumbuh.
Penyelenggaraan festival diharapkan mampu menjadi langkah awal mengembalikan kekayaan permainan masa kecil ke tengah kehidupan generasi sekarang. (dik)
Editor : Mahendra Aditya