KUDUS – Sate ayam sudah menjadi ikon dari Madura dan Ponorogo. Kali ini di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, ada sate ayam dengan bumbu yang sangat berbeda dengan sate ayam Madura maupun Ponorogo.
Sate ayam ini menggunakan bumbu persis seperti sate kebo yang menjadi makanan khas Kudus.
Cita rasa yang berbeda ini merupakan hasil racikan dari Dwi Rahmawati pemilik kedai Obong Satay.
Ide tersebut datang dari neneknya yang pernah bekerja di warung sate kebo. Ia mengganti daging kerbau dengan daging ayam.
”Ya, racikan bumbu untuk daging ayamnya itu sama persis untuk olahan daging kerbau.
Kalau dimakan, rempah bumbunya tetap keluar dan meresap dan khas daging ayamnya bisa berubah seperti daging kerbau,” ucapnya.
Dwi menggunakan bumbu serondeng, tidak menggunakan bumbu kacang pada umumnya. Ia kombinasikan juga dengan cabe rawit hijau yang dikukus, layaknya sajian sate kebo khas Kudus.
Menurutnya, harga sate ayam ini lebih murah ketimbang sate kebo. Sehingga, seluruh lapisan masyarakat bisa menikmatinya.
Kemudian, cara menyantap makanan bisa dengan lontong dan nasi. Dwi mengatakan, kalau sate kebo kebanyakan hanya penggunakan nasi, kalau sate ayam bumbu serondengn ini bisa dinikmati dengan lontong.
Dwi menjual sate ayam bumbu serondeng dengan harga Rp 18 ribu satu porsi berisi 10 tusuk sate. Ia buka mulai pukul 17.00 hingga pukul 21.00. Sehari, rata-rata bisa terjual sampai 20 tusuk.
”Saya menyediakan 300 tusuk. Untuk sate ayamnya menggunakan bagian dada. Sehari, butuh daging empat sampai lima kilogram.
Untuk daging ayam saya bumbu bacem terlebih dulu, kemudian dagingnya saya potong-potong kecil, tidak saya cincang,” jelasnya.
Salah satu pembeli Sate Ayam Bumbu Serundeng Ali Mustofa, mengatakan rasanya persis sate kebo. Dagingnya ayamnya jadi persis rasa daging kerbau. Bumbu serundenganya juga mantap.
”Enak, sama persis sate kebo. Ini bisa menjadi alternative kuliner murah dengan cita rasa hampir mirip dengan sate kebo," ungkapnya.
Kalau sate kebo satu porsi bisa sampai Rp 40 ribuan, kalau sate ayam Khas Kudus ini satu porsi Rp 18 ribu cukup ramah dikantong. (san)
Editor : Mahendra Aditya