BAE – Kanker payudara masih menjadi momok bagi perempuan Indonesia.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, tercatat sekitar 73.000 kasus baru kanker payudara di Indonesia atau sekitar 30 persen dari seluruh kasus kanker pada perempuan.
Meski kemajuan medis meningkatkan angka harapan hidup, perjuangan penyintas tidak berhenti setelah pengobatan selesai.
Mereka kerap menghadapi kecemasan, stres, dan rasa takut kambuh yang menggerus ketenangan batin.
Menjawab persoalan itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI bersama Sahabat Lestari, Universitas Muria Kudus (UMK), dan Pancacom menggelar seminar bertajuk “Melepas Cemas, Menyambut Harapan: Strategi Mental bagi Penyintas Kanker Payudara” di Auditorium UMK, Minggu (19/10) siang.
Kegiatan ini menjadi ruang berbagi dan dukungan bagi penyintas serta keluarga mereka, dengan menghadirkan 160 peserta dari kalangan penyintas kanker, keluarga, hingga mahasiswa psikologi.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, berbagi kisah pribadi.
Tepat sembilan tahun lalu, pada 19 Oktober 2016, dirinya divonis menderita kanker payudara.
“Perjalanan panjang saya lalui. Dari pengalaman itu saya belajar, bahwa perjuangan penyintas bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga membangun jejaring dan ruang bersama untuk saling menguatkan,” ujarnya.
Rerie menegaskan, kanker memang mematikan, namun tidak mampu membunuh harapan dan cinta.
Baca Juga: Gus Rozin Harapkan Bupati Kudus untuk Segera Terbitkan Perbup Pesantren
“Akses pengobatan kini sudah lebih terbuka berkat BPJS, tetapi pendampingan psikologis sering kali luput dari perhatian. Padahal, hal itu sangat menentukan proses penyembuhan,” katanya.
Ia menilai bahwa dukungan mental dan sosial perlu menjadi prioritas kebijakan kesehatan.
Dalam forum tersebut, Rerie juga mengenang ibunya yang wafat karena kanker di usia 51 tahun.
“Ibu saya survive sebelas tahun. Beberapa bulan sebelum meninggal, beliau justru menyiapkan kami, anak-anaknya. Dari beliau saya belajar arti kekuatan sejati,” tuturnya dengan nada haru.
Baca Juga: Lestari Moerdijat Dorong Guru Sejarah Kudus Jadi Pelestari Situs Patiayam
Ia mengutip pesan sang ibu, ‘Saya menyanyi bukan karena saya bahagia, tetapi saya bahagia karena saya menyanyi.’
Kalimat itu, lanjutnya, menjadi pegangan hidup untuk tetap kuat dan bersemangat.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama.
Kuriake Kharismawan, psikolog klinis, membawakan materi “Memahami Stres dan Kecemasan Pasca Kanker” yang mengajak peserta mengenali dinamika psikologis setelah fase pengobatan.
Sementara Cahyaning Puji Astuti, Founder Miraculous Hypno-Cancer dan Ketua CISC Suluh Hati Semarang, memandu sesi Mindfulness dan Relaksasi agar penyintas dapat menumbuhkan kembali rasa tenang dan percaya diri.
Kegiatan ini tidak hanya memberi wawasan, tetapi juga membangun jejaring dukungan emosional antarpeserta.
Para penyintas saling berbagi pengalaman, menguatkan, dan tertawa bersama dalam suasana yang penuh kehangatan.
Acara ini juga bertujuan agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Rerie menutup acara dengan ajakan penuh makna.
“Mari bersama-sama menyambut harapan dan membangun kekuatan untuk melepas kecemasan. Karena penyembuhan bukan hanya soal tubuh, tapi juga hati dan pikiran,” tuturnya disambut tepuk tangan peserta. (dik)
Editor : Mahendra Aditya