Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Disbudpar Kudus Klarifikasi Ogoh-Ogoh di Ampyang Maulid

Andika Trisna Saputra • Minggu, 14 September 2025 | 19:47 WIB
KREATIF: Masyarakat menyalurkan kreatifitasnya dengan membuat patung macan dalam kirab Festival Ampyang Maulid, belum lama ini. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)
KREATIF: Masyarakat menyalurkan kreatifitasnya dengan membuat patung macan dalam kirab Festival Ampyang Maulid, belum lama ini. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

JATI – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Mutrikah, menegaskan bahwa kemunculan ogoh-ogoh dalam Festival Ampyang Maulid tidak bisa disebut sebagai penyimpangan, melainkan hanya kurang sesuai dengan tema utama peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Ampyang itu kan memperingati Maulid Nabi, kebahagiaan umat muslim menyambut kelahiran Nabi. Ketika itu muslim, dan ogoh-ogoh memang non muslim, jadi tidak sesuai dengan tema saja. Tidak ada maksud lain,” jelas Mutrikah, Kamis (11/9).

Menurutnya, Festival Ampyang Maulid sejak awal sebagai media dakwah sekaligus pelestarian tradisi.

Baca Juga: DPRD Kudus Dorong Sinergi BUMDes Perkuat Pangan

Selain itu, juga diposisikan sebagai ajang promosi budaya dan kearifan lokal.

Sehingga setiap penampilan sebaiknya mengacu pada nilai-nilai islami yang menjadi akar tradisi.

“Kalau ogoh-ogoh itu tidak nyambung dengan kearifan lokal, ya bukan penyimpangan, hanya kurang pas. Sebetulnya arahan sudah kami sampaikan sejak tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.

Ia mengakui, masyarakat seringkali tetap menampilkan kreasi semacam itu karena faktor kebahagiaan, euforia, dan kebersamaan.

“Ide dan seni itu tidak ada yang salah, hanya saja kadang tidak pas menempatkan momen,” ucapnya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disbudpar Kudus, Arief Zuli Tanjung, menegaskan bahwa konsep Festival Ampyang Maulid sejatinya sudah disusun sesuai karakter aslinya, yakni islami.

Narasi budaya menjadi titik tekan agar masyarakat paham nilai tradisi dan sejarah yang diwariskan.

Baca Juga: Bupati Kudus Gerak Cepat Bantu Rumah Ambrol Warga

“Sejak awal kami memberi arahan untuk meminimalkan hal-hal yang tidak ada akar budayanya. Termasuk penggunaan sound system berlebihan. Bahkan jika dilombakan, atribut semacam itu justru mengurangi penilaian,” kata Arief.

Lebih lanjut, Arief menyebut bahwa ogoh-ogoh dan atraksi serupa hanyalah ekspresi kreatif masyarakat.

“Bagi mereka itu kebanggaan karena bisa kompak, sekaligus menarik perhatian di media sosial. Tapi kami tetap berusaha mengarahkan panitia agar menekankan sisi kebudayaan,” tambahnya.

Terkait rencana pengusulan Festival Ampyang Maulid sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), Disbudpar menegaskan perlunya kajian mendalam.

Kriteria WBTb mencakup usia tradisi lebih dari 50 tahun, diwariskan turun-temurun, memiliki nilai positif bagi kearifan lokal, memberi dampak pembangunan, serta memiliki keunikan.

“Tidak bisa asal mengusulkan. Harus ada penelitian, akar historis, sosiologis, hingga argumentasi kuat untuk dipertahankan saat sidang penetapan di Kementerian. Prioritas harus jelas, karena banyak budaya lokal yang juga antre untuk diusulkan,” tegas Arief.

Hingga kini, sudah ada enam budaya Kudus yang ditetapkan sebagai WBTb, yakni rumah adat Joglo Pencu, Upacara Adat Dandangan, Jamasan Pusaka Keris Cintaka, Barongan Kudus, Buka Luwur Sunan Kudus, dan Jenang Kudus.

Dengan penetapan itu, tradisi mendapat perlindungan hukum, prioritas pelestarian, dan pendokumentasian yang lebih kuat. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#maulid nabi #wbtb #disbudpar kudus #ogoh ogoh #Festival Ampyang Maulid