KUDUS - Tradisi Ampyang Maulid yang berlangsung di Desa Loram Kulon berlangsung meriah Minggu (7/9). Warga Desa Loram Kulon dan Wetan menampilkan kreasi binatang raksasa hingga teatrikal manten mubeng gapura Masjid Wali Loram Kulon.
Ribuan masyarakat memadati jalan desa menuju Masjid Wali Loram Kulon. Masyarakat antusias menyaksikan penampilan kirab budaya yang dibawakan oleh masyarakat sekitar. Kirab budaya ini dimulai dari Lapangan Kongsi menuju Masjid Wali Loram Kulon atau Masjid At-Taqwa.
Beberapa warga Desa Loram Wetan dan Kulon menampilkan berbagai bentuk budaya. Antaralain berupa gunungan hasil bumi, pakaian adat dari dari berbagai daerah, budaya manten mubeng, serta sumur gentong.
Penampilan yang memukau warga lainnya adalah hewan-hewan raksasa. Antaralain kucing raksasa, harimau raksasa, serta gorilla.
Puncak dari tradisi Ampyang Maulid adalah pembagian nasi kepal kepada warga. Sebelum dibagikan gunungan nasi kepal beserta lauk botok tahu itu didoakan terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan waktu lama, masyarakat yang sudah menanti berdesakan berebut nasi kepal tersebut. Kurang dari 15 menit gunungan nasi kepal itu ludes.
Pada kesempatan itu hadir Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan, apresiasi sepenuhnya atas kegiatan tradisi budaya tersebut. Ampyang Maulid ini sebagai upaya pelestarian budaya dan peningkatan ekonomi masyarakat.
”Tradisi Ampyang Maulid ini sebagai upaya peningkatan pariwisata, mari dijaga dan dilestarikan,” jelasnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI Musthofa mengaku rutin hadir pada agenda budaya itu. Ia menghitung sudah 18 kali hadir.
”Kegiatan ini tidak seremonial saja, harus tetap dijaga dan dilestarikan hingga ke depan,” mintanya.
Terpisah, Ketua Panitia Ampyang Maulid dan Loram Expo, Muhammad Abdul Rouf mengatakan, kirab ini diikuti oleh 50 kontingen yang masing-masing terdiri dari 30 hingga 40 orang.
Peserta berasal dari siswa sekolah, masyarakat, musala, hingga pelaku UMKM di Desa Loram Kulon dan Loram Wetan.
”Tandu (kreativitas) juga kami lombakan, ini bertujuan agar masyarakat lebih antusias,” katanya.
Salah satu warga Tania mengaku rutin menyaksikan tradisi Ampyang Maulid. Ini adalah bentuk syukur masyarakat memperingati kelahiran Nabi Muhammad.
Selain itu, ia mendapatkan nasi kepal beserta lauknya. Momen puncak mendapatkan nasi kepal tersebut hal yang sangat ditunggu masyarakat.
”Semoga dengan mendapatkan nasi kepal ini mendapatkan berkah,” tandasnya. (gal)
Editor : Mahendra Aditya