KOTA – Pemerintah Kabupaten Kudus mendorong langkah diversifikasi usaha sebagai strategi menghadapi tekanan kenaikan tarif cukai hasil tembakau.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyebut diversifikasi penting untuk mengurangi ketergantungan pada industri rokok yang selama ini menyumbang hingga 75 persen perekonomian daerah.
“Langkah ini positif karena bagian dari perkembangan investasi di Kudus. Tidak hanya mengandalkan tembakau, tapi mulai merambah ke bidang lain,” ujar Sam’ani belum lama ini.
Baca Juga: DPRD Kudus Dorong Penyelesaian Tunggakan PKD Pasar, Begini Solusinya
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Kudus pada semester pertama 2025 hanya 2,78 persen.
Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5 persen.
Lesunya sektor rokok akibat regulasi yang dinilai memberatkan, serta peredaran rokok ilegal, menjadi faktor utama pelemahan.
Meski demikian, Sam’ani menegaskan Kudus bukan daerah produsen rokok ilegal.
“Kalau rokok ilegal di Kudus tidak ada yang produksi. Pengusaha di sini tertib,” tegasnya.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah perusahaan rokok di Kudus mulai mencari jalan keluar dengan memperluas usaha ke sektor lain, terutama makanan dan minuman.
Diversifikasi ini dipandang sebagai bantalan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mengurangi risiko bila industri tembakau terus terhimpit.
“Kalau hanya mengandalkan satu sektor, ekonomi daerah jadi rapuh. Diversifikasi akan memperluas peluang kerja dan menjaga perputaran ekonomi tetap berjalan,” jelas Sam’ani.
Selain mendukung inisiatif swasta, Pemkab Kudus juga mempercepat masuknya investasi baru.
Pembangunan pusat ekonomi di lahan eks Gedung Ngasirah tengah dipersiapkan, sedangkan sejumlah investor berencana membangun hotel berbintang di Kudus.
Proyek-proyek tersebut diharapkan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memperkuat sektor pariwisata.
Baca Juga: Wabup Kudus Harapkan TP3D Ringankan Kerja Pemerintah, Ini Perannya
Tidak hanya itu, Pemkab juga menyiapkan program revitalisasi bangunan eks Stasiun Kudus di Desa Wergu Kulon untuk dijadikan pusat kuliner UMKM.
Aset milik PT KAI tersebut telah resmi disewa Pemkab senilai Rp 1,6 miliar untuk lima tahun.
Kehadiran pusat kuliner diharapkan menjadi ikon baru kota sekaligus wadah kreatif bagi pelaku usaha kecil.
“Adanya investor baru dan pusat kuliner UMKM akan menambah kesempatan kerja bagi masyarakat. Pemerintah daerah juga mendapat tambahan pemasukan dari pajak,” jelasnya.
Dengan kombinasi diversifikasi usaha, perlindungan tenaga kerja, dan percepatan investasi, Sam’ani optimistis Kudus bisa keluar dari tekanan.
“Kami ingin Kudus tetap tumbuh. Kalau industri rokok mendapat perhatian, diversifikasi berjalan, dan UMKM berkembang, maka masyarakat akan sejahtera,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya