DAWE – Tradisi wiwit kopi kembali digelar masyarakat Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, sebagai bentuk syukur atas datangnya musim panen raya kopi.
Acara yang dijadwalkan berlangsung awal Agustus 2025 ini menjadi penanda dimulainya masa panen kopi yang akan berlangsung hingga September mendatang.
Ketua Desa Wisata Japan, Muthohar, mengatakan bahwa tradisi wiwit berasal dari bahasa Jawa yang berarti “memulai” atau “mengawali”.
Baca Juga: Edukasi Kebencanaan, SPAB SMAN 1 Kudus Dibentuk, Ini Tujuannya!
Dalam konteks panen kopi, tradisi ini menjadi simbol dimulainya proses pemetikan hasil kebun rakyat yang menjadi tulang punggung ekonomi desa.
“Tahun ini, tradisi wiwit kopi digelar lebih meriah dan melibatkan banyak warga desa,” ujarnya, Minggu (3/8).
Rangkaian acara dirancang dengan meriah, mulai dari kirab gunungan hasil bumi, pertunjukan seni, hingga penampilan Tari Wiwit Kopi.
Tidak hanya bersifat seremoni, kegiatan ini juga menekankan unsur edukasi dan pemberdayaan.
Selain itu, perayaan wiwit kopi juga akan dimeriahkan dengan fun camp dan sarasehan yang membahas tentang dinamika dan masa depan Kopi Muria, yang diadakan pada Sabtu (9/8) malam.
Diskusi ini akan menghadirkan beragam narasumber dari kalangan petani, komunitas kopi, akademisi, hingga stakeholder terkait.
Tujuannya untuk membedah potensi, tantangan, dan peluang pengembangan kopi lokal Muria secara menyeluruh.
Baca Juga: Ada Car Free Night, Dishub Kudus Tutup Jalan dr. Ramelan, Ini Jalur Rekayasa Arus Lalu Lintasnya!!
“Kami ingin membicarakan sejauh mana potensi kopi Muria, apa kendala yang dirasakan petani, dan solusi apa yang bisa ditawarkan supaya kopi lokal bisa lebih dikenal masyarakat luas,” kata Muthohar.
Tak hanya itu, tradisi ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.
Para pelajar SMA/SMK di Kudus akan diajak dalam tur edukatif, melihat langsung proses pengolahan kopi secara tradisional hingga pemahaman nilai ekonomi dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Menurut Muthohar, panen kopi tahun ini diharapkan dapat memperkuat branding Japan sebagai “Negeri Kopi yang Lestari”.
Baca Juga: Tak Ada Angin dan Hujan, Rumah di Kudus Ambruk! Begini Kronologinya!
Apalagi, tradisi wiwit kopi sempat vakum selama 15 tahun, sebelum akhirnya dihidupkan kembali tahun 2024 lalu.
“Dengan semangat gotong royong dan sinergi lintas sektor, kami ingin menjadikan tradisi ini sebagai momentum untuk mengangkat nama desa sekaligus memberdayakan petani dan pelaku usaha kopi secara berkelanjutan,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya