KUDUS - Kampanye kepedulian terhadap lingkungan terus digelorakan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) di brak Djarum Karangbener.
Inovasi diciptakan dengan mengumpulkan minyak jelantah yang akan diolah menjadi bio avtur.
Mesin pengumpul minyak jelantah Ucollect disediakan di brak. Para pekerja yang notabene ibu-ibu ini menukarkan minyak jelantah menjadi rupiah.
Cara kerja mesin ini bisa dioperasionalkan cukup mudah. Pekerja yang sudah terdaftar dan memiliki akun cukup memindai kode barcode.
Selanjutnya minyak yang dibawa di dalam jerigen dituangkan ke dalam mesin tersebut.
Setelah proses tersebut selesai maka saldo akan masuk ke dalam aplikasi Ucollect.
Bisnis Development Manajer Noovoleum, Maudi Dwi Lestari menjelaskan, daya tampung mesin tersebut sebesar 1 ton.
Per user bisa menyetorkan minyak jelantah sebanyak 30 liter untuk sekali transaksi.
”Setelah disetorkan minyak jelantah tersebut saldo akan terpampang di aplikasi,” katanya.
Mesin penampung minyak jelantah tersebut terbilang canggih. Mesin dilengkapi filter khusus. Dengan begitu hanya minyak jelantah yang diterima.
Jika minyak jelantah tersebut terkontaminasi dengan cairan lainnya maka akan otomatis tertolak.
Terkait harga per liter minyak jelantah tersebut dihargai Rp 6 ribu. Harga tersebut mengikuti harga minyak dunia.
”Kami menjaga agar harga tidak terlalu turun. Itu untuk menghargai dan mensejahterakan ibu rumah tangga yang sudah peduli dengan lingkungan,” jelasnya.
Maudi menambahkan, terkait pengelolaan minyak jelantah menjadi bioavtur tersebut bekerja sama dengan pihak ketiga.
Minyak tersebut akan diolah di luar negeri, lantaran di Indonesia belum mumpuni untuk mengolah.
Mesin penampung minyak jelantah tersebut nantinya akan di tempatkan di 30 brak milik PT Djarum.
Dengan begitu ibu-ibu buruh rokok bisa berkontribusi menjaga lingkungan.
Sementara itu, Manajer Corporate Affairs PT Djarum, Purnomo Nugroho mengatakan, pengumpulan minyak jelantah tersebut adalah upaya menjaga kelestarian lingkungan dengan melibatkan seluruh karyawan.
”Biasanya minyak jelantah ini dibuang ke saluran di rumah, sekarang ini kami bekerjasama dengan pihak lain. Karyawan kami ajak peduli dengan lingkungan,” jelasnya.
Limbah rumah tangga yang bisa memiliki nilai ini bisa diproses menjadi barang yang lebih bermanfaat.
Pihaknya berkomitmen akan memperluas alat penampung minyak jelantah tersebut.
Terpisah Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris mengapresiasi program tersebut.
Minyak jelantah yang sebelumnya tidak bisa dimanfaatkan kini bisa disulap menjadi barang bermanfaat.
”Kudus bisa menjadi pelopor untuk bakti lingkungan, kami sosialisasikan lebih masif ke masyarakat,” imbuhnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat tidak membuang minyak jelantahnya secara sembarangan.
Minyak jelantah tersebut masih bisa dimanfaatkan dan masyarakat akan memperoleh uang. (gal)
Editor : Ali Mustofa