KUDUS- Warga Desa Tanjungrejo menggelar syukuran atas ditutupnya galian c ilegal di dekat Bendung Logung.
Masyarakat yang terdampak melakukan sujud syukur di pertigaan Ngablak, Desa Tanjungrejo Jumat (27/6).
Sujud syukur ini diikuti warga Desa Tanjungrejo yang terdampak galian c tersebut di Dukuh Ngablak dan Dukuh Beji.
Warga membentangkan baner bertuliskan Sujud Syukur serta ucapan terimakasih kepada Bupati Kudus Sam'ani Intakoris, Ketua DPRD Kudus Masan, Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo, dan Dandim 0722/Kudus Letkol Inf Hermawan Setya Budi.
Warga juga membawa jajan pasar sebagai wujud syukur.
Sebelum melaksanakan aksi sujud syukur warga berdoa terlebih dahulu. Setelah itu, masyarakat melakukan sujud syukur.
Koordinator Aksi, Joko Prihatin menyatakan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak atas upaya penutupan galian c ilegal telah terealisasi.
Warga sangat bahagia atas kebijakan bupati Kudus yang memberhentikan sementara aktivitas galian c.
"Sekian tahun lamanya galian c ini beroperasi, saya merasa berbahagia atas penutupan ini," katanya.
Aktivitas galian c ini menurut Joko sangat meresahkan warga. Setiap harinya lebih dari 200 truk melintas di jalanan Dukuh Ngablak.
Selain itu kondisi jalan di lokasi menuju galian c berdebu.
Serta membahayakan warga karena sering terjatuh. Kondisi jalan licin setelah diguyur air.
Dampak lainnya, jalan yang dilintasi oleh truk tersebut mengalami kerusakan. Lantaran kendaraan yang melintas over tonase.
"Kondisi ini sangat memprihatinkan untuk Bendung Logung yang menyimpan 20 juta kubik air, " imbuhnya.
Dia menjelaskan, aktivitas galian c ini sudah berlangsung sekitar 3 tahun lebih.
Warga dulu sempat menolak kegiatan galian c tersebut.
"Warga dulu sempat mendapatkan intimidasi dan ada praktik premanisme. Kebijakan sekarang Presiden Prabowo memberantas premanisme," jelasnya.
Semenrara itu Warga Desa Tanjungrejo RT 5/4, Sutriah, 47 galian c ilegal sangat meresahkan warga.
Dia pernah terjatuh akibat bekas tanah galian yang terbawa truk di jalan.
"Karena di jalan dibersihkan (disirami) ketika ada gumpalan tanah. Jalannya licin dan kaki saya pernah terluka," ungkapnya.
Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan dampak debu yang berada di jalanan. (gal)
Editor : Ali Mustofa