KUDUS - Malam 1 Suro menjadi moment yang dianggap sakral bagi sebagian wong Jowo. Banyak yang melakukan ritual, seperti ngumbah gaman dan ngalap berkah.
Ada yang di rumah sendiri. Ada juga yang sengaja datang di tempat-tempat tertentu, seperti petilasan.
Pemerintah Desa (Pemdes) Rahtawu, Gebog, Kudus, terus mendorong peningkatan pengelolaan kawasan petilasan Eyang Sakri.
Ini sebagai bagian dari pengembangan wisata religi lokal. Puncak aktivitas tahunan seperti malam 1 Suro menjadi momentum penting untuk menata kawasan dan memperkuat pelayanan bagi para peziarah.
Dari keseluruhan petilasan di Desa Rahtawu, selalau ramai pengunjung setiap 1 Suro. Jumlahnya mencapai ribuan orang.
Sekretaris Desa Rahtawu Agung Darmono menyampaikan, pihak desa telah menyiapkan sejumlah langkah strategis menyambut kedatangan peziarah secara aman dan tertib.
”Kami bentuk panitia sejak jauh-jauh hari. Bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti polsek, koramil, linmas, banser, dan karang taruna,” ujarnya.
Setiap petilasan, khususnya Eyang Sakri yang menjadi pusat ritual malam 1 Suro, ditempatkan petugas untuk membantu pengaturan arus peziarah serta menjaga keamanan dan kenyamanan selama prosesi berlangsung.
Tak hanya itu, sistem lalu lintas menuju lokasi juga dikoordinasikan oleh panitia desa untuk menghindari kemacetan.
Agung mengatakan, pemdes tak hanya fokus pada acara ritual tahunan, tetapi juga membenahi fasilitas fisik di sekitar petilasan.
”Kami lakukan pembangunan di beberapa titik petilasan, agar fasilitasnya lebih baik, lebih nyaman bagi pengunjung. Ini bagian dari upaya kami mengembangkan wisata religi di Rahtawu,” jelasnya. (Andika Trisna Saputra)
Editor : Ali Mustofa