Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mahasiswi Perguruan Tinggi di Kudus Terperosok di Jurang saat Muncak Natas Angin, Begini Evakuasinya

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 26 Juni 2025 | 02:46 WIB

 

 

PROSES PANJANG: Tim gabungan berhasil mengevakuasi korban meninggal saat pendakian ke Puncak Natasangin di Desa Rahtawu
PROSES PANJANG: Tim gabungan berhasil mengevakuasi korban meninggal saat pendakian ke Puncak Natasangin di Desa Rahtawu

KUDUS – Setelah melalui upaya yang penuh tantangan, proses evakuasi terhadap Jovita Diva Prabudawardani, 21, yang terjatuh ke jurang akhirnya berhasil dilakukan kemarin pagi.

Korban yang merupakan mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kudus ini, ditemukan di dasar jurang dengan kedalaman sekitar 250 meter.

Dia terjatuh saat mendaki ke Puncak Natas Angin, Desa Rahtawu, Gebog.

Evakuasi sempat mengalami kendala signifikan. Terutama terkait peralatan dan jumlah personel.

Ketua Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) BPBD Kudus Julian Noor W. menjelaskan, tim pertama sempat mencoba melakukan evakuasi pada malam hari, tapi harus dihentikan karena kondisi terlalu berbahaya.

”Awalnya kami terkendala personel dan peralatan. Upaya malam hari tidak memungkinkan, karena faktor medan. Jadi, baru dilanjutkan pagi ini (kemarin pagi, Red),” ujar Julian.

Dengan kondisi medan yang curam dan licin, relawan membawa peralatan tambahan secara manual dari bawah.

Proses evakuasi dilakukan dengan metode estafet antartitik. Mulai dari titik jatuh hingga ke bibir jurang.

”Pengangkatan korban dari dasar jurang ke atas butuh waktu dua sampai tiga jam.

Jika dihitung dari awal evakuasi hingga pemulihan di titik aman, total memakan waktu sekitar enam jam. Sejak awal kejadian hingga tuntas, durasinya mencapai 36 jam,” jelasnya.

Pada awal laporan, jurang disebut hanya sedalam 10 meter. Namun saat tim mencapai lokasi, kedalaman sebenarnya mencapai sekitar 250 meter, sehingga menjadikan proses evakuasi jauh lebih rumit dan berisiko tinggi. Saat ditemukan, ponsel korban masih ada di saku.

Informasi lengkap soal kondisi korban masih menunggu dari pihak medis.

Menanggapi kejadian ini, anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Arif Wahyudi menyoroti pentingnya kesiapan pendaki sebelum naik gunung.

Ia mengingatkan, banyak pendaki pemula yang mendaki tanpa bekal keterampilan dan pemahaman medan.

”Anak-anak sekarang banyak naik gunung hanya demi konten. Padahal belum tentu paham risiko. Ini berbahaya,” terangnya.

Ia juga mendorong adanya sistem pengelolaan pendakian yang lebih profesional. Mulai dari registrasi pendaki, pemeriksaan perlengkapan, hingga monitoring selama pendakian.

Evaluasi dan pembatasan jalur pendakian Puncak Natas Angin kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat. (dik/lin)

Editor : Mahendra Aditya
#Puncak Songolikur #mahasiswi terperosok di gunung #muria #rahtawu #Natas Angin #Kudus #Puncak Natas Angin