KUDUS – Ekskavasi fosil gajah purba di Situs Patiayam, Kecamatan Jekulo, memasuki tahap akhir proses penyelamatan.
Temuan langka ini rencananya akan dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi baru di wilayah Kudus.
Kegiatan ekskavasi dilakukan oleh tim gabungan dari Yayasan Dharma Bakti Lestari, Center for Preshistory and Austronesian Studies (CPAS) Indonesia, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta para akademisi dari Universitas Indonesia dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
“Ini ekskavasi arkeopaleontologi, kombinasi antara arkeologi dan paleontologi,” jelas Prof. Truman Simanjuntak, Peneliti Senior CPAS Indonesia, saat ditemui di lokasi, Senin (23/6).
Ia menjelaskan, penggalian dilakukan secara efisien namun tetap teliti. Penggunaan alat berat dibatasi, sementara setiap perubahan lapisan tanah dicatat dan didokumentasikan dengan cermat.
Temuan Fosil Gajah Hampir Utuh
Ekskavasi ini merupakan lanjutan dari kegiatan tahun lalu, setelah ditemukan kerangka gajah purba yang diduga berasal dari jenis Elephas.
Fosil tersebut ditemukan dalam kondisi hampir utuh, terkubur dalam lapisan tanah yang kaya kandungan fosil.
Karena waktu terbatas, lokasi sempat ditutup sementara. Kini, tim kembali untuk menyelesaikan ekskavasi sekaligus mengamankan situs dari ancaman cuaca dan kerusakan lainnya.
“Ini hari terakhir. Kami fokus menyelamatkan temuan sebelum membangun pelindung permanen,” tambah Truman.
Fosil gajah tersebut saat ini telah ditutup dengan plastik tipis, lalu dilapisi pasir dan terpal.
Langkah ini diambil untuk menjaga agar fosil tetap utuh sebelum dipindahkan atau dibangun pelindung fisik di lokasi.
Selain fosil utama, tim juga menemukan sejumlah fragmen fosil lain di sekitar lokasi, yang menambah nilai ilmiah Situs Patiayam.
Dikembangkan Jadi Spot Wisata dan Edukasi
Menariknya, lokasi ekskavasi ini akan dijadikan titik kunjungan baru bagi wisatawan.
Setelah sebelumnya dibangun Gardu Pandang, lokasi temuan fosil gajah ini akan menjadi spot kedua yang dibuka untuk publik, melengkapi Museum Patiayam yang sudah lebih dulu beroperasi.
“Ke depan akan terus ditambah titik-titik kunjungan lain. Kami ingin menjadikan Patiayam sebagai kawasan wisata edukasi,” jelas Prof. Truman.
Dalam rencana jangka panjang, pemerintah dan pihak terkait akan membangun struktur pelindung permanen di atas fosil.
Baca Juga: Mahasiswa UI Temukan Fosil di Situs Purbakala Patiayam Kudus, Diperkirakan Tulang Rusuk Stegodon
Bangunan ini akan berfungsi ganda: sebagai pelindung situs dan sebagai ruang edukasi interaktif.
“Yang kami tampilkan bukan cuma fosil, tapi juga proses ekskavasi itu sendiri. Pengunjung bisa melihat langsung bagaimana peneliti bekerja, memahami sejarahnya, dan belajar dari sana,” terangnya.
Tim juga tengah menyiapkan cetakan kerangka gajah untuk dipamerkan di Museum Patiayam atau museum lain di Indonesia.
Ilmu Pengetahuan Bertemu Pariwisata
Dengan potensi besar yang dimiliki, Situs Patiayam diharapkan dapat menjadi pusat edukasi publik sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata lokal berbasis sejarah dan ilmu pengetahuan.
“Kami ingin situs ini tak hanya hidup di kalangan akademisi, tapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” tegas Prof. Truman.
Ekskavasi yang selama ini bersifat ilmiah, kini membuka ruang kolaborasi dengan sektor pariwisata.
Diharapkan, langkah ini menjadi pintu masuk untuk menjadikan Kudus sebagai destinasi riset sekaligus wisata edukasi kelas nasional. (Andika Trisna Saputra)
Editor : Mahendra Aditya