KUDUS – Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) tengah menggodok rencana besar: membuka Fakultas Kedokteran (FK).
Gagasan ini kini menjadi fokus kajian internal kampus, seiring dorongan dan perhatian serius dari Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah.
Namun, wacana ini bukan perkara mudah. Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah melalui Joko Murdiyanto menegaskan, pendirian Fakultas Kedokteran jauh lebih kompleks dibanding program studi lain.
Salah satu tantangan utamanya adalah persoalan tata kelola dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM), terutama dosen tetap dan dokter spesialis.
“Silakan saja kalau ingin membuka Fakultas Kedokteran. Tapi harus benar-benar diperhitungkan. FK tidak bisa disamakan dengan prodi biasa,” kata Joko saat diwawancarai belum lama ini.
Sebagai gambaran, program studi umum hanya mewajibkan lima dosen tetap. Sementara FK, minimal harus memiliki 26 dosen, termasuk dokter spesialis—yang tidak mudah dicari dan direkrut.
Joko juga mengingatkan tentang ancaman kelebihan jumlah dokter (oversupply) di masa depan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, rasio ideal saat ini adalah 1 dokter per 1.000 penduduk.
Namun, dengan 144 FK aktif di Indonesia, bila masing-masing meluluskan 100 dokter per tahun, maka dalam sepuluh tahun akan muncul puluhan ribu dokter baru.
“Masalahnya bukan lagi jumlah dokter, tapi distribusinya. Di Jawa Tengah saja ada lebih dari 10 FK, sembilan di antaranya ada di Semarang. Ini akan menciptakan persaingan yang makin ketat,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta UMKU untuk tidak terburu-buru dan melakukan kajian menyeluruh, agar langkah besar ini tidak menjadi beban di kemudian hari.
Rektor UMKU: Kami Tidak Akan Gegabah
Rektor UMKU, Edy Soesanto, membenarkan bahwa pihaknya masih dalam tahap kajian intensif.
Ia menilai pendirian FK tidak sekadar soal infrastruktur atau akreditasi, tapi juga kesiapan strategis dan berkelanjutan.
“Di Kudus, jumlah dokter spesialis sangat minim. Itu jadi tantangan besar buat kami,” ujar Edy saat ditemui Radar Kudus.
Ia juga menyoroti fenomena sejumlah FK swasta yang kini kesulitan menjaring mahasiswa baru karena ketatnya persaingan. Meski begitu, ada pula kampus yang mengalami kelebihan pendaftar.
Baca Juga: SOSOK Syafira Martania, Mahasiswi UMKU Asal Kudus yang Bertekad Kembangkan Bisnis Apotek Keluarga
“Kami tak ingin gegabah. Kalau FK benar-benar dibuka, keputusan itu harus didasari kesiapan matang. Ini bukan proyek jangka pendek,” tandasnya.
Langkah UMKU dalam menjajaki peluang pendirian FK menjadi sinyal ambisius bahwa kampus ini ingin naik kelas.
Namun, di tengah tantangan SDM, regulasi ketat, dan ancaman oversupply, keputusan tersebut tidak bisa hanya berbekal semangat.
Dibutuhkan perencanaan realistis dan komitmen jangka panjang agar tidak berakhir menjadi beban institusi. (Andika Trisna Saputra)
Editor : Mahendra Aditya