Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Di Kudus, Para Peserta Kirab Sedekah Bumi Desa Getaspejaten Kenakan Gaun Sampah Plastik, Ternyata Ini Sebabnya

Abdul Rochim • Selasa, 20 Mei 2025 | 00:07 WIB
Replika masjid dari botol bekas air mineral saat sedekah bumi Desa Getaspejaten, Jati, Kudus pada Minggu (18/5).
Replika masjid dari botol bekas air mineral saat sedekah bumi Desa Getaspejaten, Jati, Kudus pada Minggu (18/5).

KUDUS, Radar Kudus – Kirab Budaya Sedekah Bumi di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Minggu (18/5), menyajikan lebih dari sekadar prosesi adat tahunan.

Gelaran tahun ini memadukan pelestarian tradisi dengan semangat baru: kepedulian terhadap lingkungan dan penguatan identitas lokal.

Keunikan lokal Getas Pejaten menonjol lewat berbagai miniatur dan replika yang dibawa peserta.

Ada replika sumur ngedok, rumah tempo dulu, hingga simbol UMKM desa seperti konveksi rumahan dan lemari kaca.

Salah satu yang menarik perhatian adalah kereta sapi mini berisi hasil bumi, sebagai gambaran alat transportasi tradisional warga Getas pada masa lalu.

“Ini alat transportasi kami dulu sebelum ada motor,” tutur Munadi, salah satu peserta.

Tema "Tumbuh Bersama Alam, Hidup Bersama Budaya" menjadi benang merah dalam setiap atraksi yang ditampilkan, menegaskan bahwa warisan budaya dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan.

Kirab dimulai pukul 09.00 WIB dari Lapangan Gandekan dan menempuh jarak tiga kilometer hingga Balai Desa.

Sebanyak 45 rombongan ikut ambil bagian, berasal dari lembaga pemasyarakatan, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, serta RT dan RW di desa.

Yang paling mencolok dari perhelatan ini adalah busana-busana unik hasil kreasi warga dari bahan daur ulang sampah.

Ada replika masjid juga disusun dari botol air mineral ukuran satu liter.

Sampah rumah tangga seperti plastik kresek, kemasan sabun, kardus bekas, kain perca, bahkan daun-daunan disulap menjadi gaun, jubah, hingga atribut penuh warna yang dikenakan para peserta dengan percaya diri.

Baca Juga: Sering Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Balai Jagong Kudus Disorot Bellinda

Kepala Desa Getas Pejaten, Kusnadi, menilai kirab ini sebagai momentum edukatif, terutama bagi anak muda, agar terbiasa memilah sampah dan mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.

Ia juga menegaskan bahwa budaya tidak boleh dilepaskan dari kesadaran ekologis. “Sampah adalah isu besar yang harus ditangani dari tingkat desa,” ujarnya.

Tak hanya parade kostum daur ulang, kirab juga diramaikan atraksi seni lokal seperti barongsai, tarian tradisional, dan gunungan hasil bumi berisi sayur dan buah lokal.

Spanduk dengan pesan lingkungan menghiasi sepanjang rute, memperkuat pesan yang ingin disampaikan: bahwa melestarikan budaya dan menjaga alam bukan dua hal yang saling bertentangan.

Setibanya di Balai Desa, tiap kelompok tampil dengan pertunjukan seni masing-masing.

Mulai dari lakon pewayangan dengan kostum dari kain bekas, hingga tarian modern dengan gerakan dan lagu bertema lingkungan.

Semua tampil dengan semangat kolaborasi dan pesan kuat tentang tanggung jawab sosial terhadap bumi.

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kudus, Valerie Yudisthira, mengapresiasi acara tersebut.

Ia mengatakan bahwa kirab ini menjadi bukti bahwa budaya bisa menjadi pintu masuk untuk mengatasi persoalan besar seperti darurat sampah.

“Solusi harus dimulai dari budaya. Kirab ini bisa jadi awal budaya baru yang lebih peduli lingkungan,” katanya. Valerie menegaskan bahwa DPRD siap berkolaborasi untuk mewujudkan langkah-langkah konkret pengelolaan sampah dari tingkat desa.

Kirab Budaya Sedekah Bumi tahun ini membuktikan bahwa pelestarian tradisi lokal dan kesadaran lingkungan bisa menjadi satu kesatuan gerakan.

Melalui kreativitas warga dan penghargaan terhadap ingatan kolektif desa, Getas Pejaten tidak hanya menjaga budayanya tetap hidup, tapi juga menunjukkan jalan menuju masa depan yang lebih lestari.

Editor : Mahendra Aditya
#daur ulang sampah #replika masjid dari botol air mineral #kirab budaya kudus #sedekah bumi kudus