GEBOG, Radar Kudus – Pelantikan Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus masa khidmah 2024-2026 berlangsung meriah di Gedung Graha Idola, Gebog, Kudus, pada Ahad (11/5).
Pelantikan juga diwarnai dengan talkshow bertema ’Pelajar Visioner Berkarakter’. Berbertujuan untuk menekankan pentingnya mempunyai karakter dan visi bagi pelajar masa kini.
Talkshow ini, digelar setelah pelantikan. Sosok tokoh pelajar muda berintegritas diundang sebagai pemateri, yakni Rekanita Whasfi Velasufah selaku Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) dan Rekan M. Sidqil Wuqosa selaku perwakilan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) untuk berbagi pandangan dan pengalamannya sebagai seorang pelajar sekaligus aktivis.
Dalam sesi talkshow, Whasfi menekankan bahwa pelajar masa kini sangat membutuhkan visi atau tujuan supaya lebih terarah.
”Ibarat seorang yang ingin menjadi seorang dokter, maka jurusan IPA adalah pilihan terbaik untuk membawa selangkah lebih dekat untuk menjadi seorang dokter. Tidak mungkin kalau mengambil IPS. Jelas jika itu terjadi, sudah salah jalur,” jelasnya.
Dia mengimbau, hidup agar tidak mengalir saja. Namun, sebagai seorang pelajar harus mempunyai wishlist.
Supaya dapat mengendalikan arah hidup. Mau dibawa kemana setelah ini. Untuk itu, visi menjadi suatu yang wajib dipunyai bagi seorang pelajar.
Sementara itu, Sidqil menyoroti pentingnya karakter yang tidak hanya berlandasan akal, tapu juga mengedepankan moralitas.
”Pendidikan jangan difungsikan menggunakan akal saja, melainkan penting mengedepankan moralitas.
Karena saat ini banyak pemimpin atau penjabat yang berasal dari background pendidikan terintegritas, tapi tidak kebijakannya,” katanya.
Kedua pemateri juga sepakat, bahwa pelajar masa kini harus mampu beradaptasi.
Mereka mendorong para pelajar untuk memanfaatkan teknologi dengan bijak dan tidak terjebak dalam hal-hal negatif.
”Sebagai seorang pelajar, kita harus pinter-pinter mengfilter informasi apapun yang ada di medsos. Karena banyak sekali degradasi moral yang terjadi di era digitalis saat ini,” pesan Sidqil.
Talkshow ini diakhiri dengan closing statement dari rekanita Whasfi yang mengutip perkataan Buya Hamka.
”Jika hidup sekadar hidup, maka kera juga hidup di hutan rimba.
Jika kerja sekadar kerja, maka kerbau di sawah juga bekerja. Bedanya dengan kita ialah akal dan hati yang kita punya,” imbuhnya. (lin)
Editor : Mahendra Aditya