Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Takbiran di Undaan Berlangsung Kondusif: Tanpa Sound Horeg, Lebih Damai dan Tertib

Indah Susanti • Selasa, 1 April 2025 | 22:25 WIB
KONDUSIF: Peserta takbiran di Desa Wates, Kecamatan Undaan memegangi atribut yang bertuliskan huruf arab sambil keliling di gang.
KONDUSIF: Peserta takbiran di Desa Wates, Kecamatan Undaan memegangi atribut yang bertuliskan huruf arab sambil keliling di gang.

KUDUS, Radar Kudus – Malam takbiran di wilayah Kudus tahun ini berlangsung semarak namun tetap terkendali.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, takbir keliling di beberapa titik di Kecamatan Undaan mengalami perubahan signifikan.

Tanpa kehadiran sound horeg yang kerap menimbulkan keramaian berlebihan, suasana takbiran kali ini terasa lebih damai dan tertib.

Seperti biasa, takbir keliling tetap menjadi tradisi tahunan yang dinanti masyarakat. Di berbagai desa, warga berbondong-bondong turun ke jalan dengan membawa atribut unik seperti drum band, bendera besar, serta ogoh-ogoh berbagai ukuran.

Kembang api dan flare berwarna-warni turut menyemarakkan malam kemenangan ini. Namun, ada yang berbeda—suasana lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Takbiran di Pusat Kota: Semarak dan Tertib

Di sekitar Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, suasana takbir keliling berlangsung meriah. Salah satu kelompok peserta dari Pemuda Ledok membawa drum band besar dan berjalan kaki sambil mengumandangkan takbir.

Pemandangan yang serupa juga terlihat di berbagai titik lainnya di sekitar pusat kota. Kepadatan lalu lintas sempat terjadi, namun aparat kepolisian dengan sigap mengatur arus kendaraan agar tetap lancar.

Di sisi lain, takbiran di Kecamatan Undaan menjadi sorotan. Tahun ini, aturan baru diterapkan dengan cukup ketat, terutama terkait larangan penggunaan sound horeg yang sebelumnya sering menjadi pemicu ketegangan antar peserta.

Langkah ini diambil demi menciptakan suasana yang lebih kondusif dan menghindari insiden yang tidak diinginkan.

Aturan Ketat di Kecamatan Undaan: Takbiran Hanya di Gang, Ogoh-Ogoh Tetap Hadir

Di Undaan, takbiran masih dilakukan seperti biasa, tetapi dengan aturan lebih ketat. Para peserta tetap menggunakan ogoh-ogoh dari ukuran sedang hingga besar.

Namun, berbeda dengan tahun lalu, mereka hanya diperbolehkan berkeliling di dalam gang-gang desa dan dilarang keluar ke jalan raya. Hal ini bertujuan untuk menghindari kemacetan serta potensi bentrok antar peserta.

Dari 16 desa di Kecamatan Undaan, tiga desa—Undaan Kidul, Undaan Tengah, dan Sambung—memilih untuk tidak menggelar takbir keliling.

Sebagai gantinya, mereka melaksanakan takbiran di musala dan masjid setempat. Keputusan ini diambil demi menjaga ketertiban dan menghindari gesekan yang pernah terjadi di tahun sebelumnya.

Camat Undaan, Arif Budianto, mengapresiasi kesadaran warga yang semakin tinggi dalam menjaga keamanan lingkungan.

Meskipun sempat terjadi gesekan kecil di Undaan Lor akibat candaan antar peserta, situasi dapat segera dikendalikan sebelum berkembang menjadi konflik lebih besar.

“Kami telah melakukan rapat koordinasi sebanyak tiga kali dengan perwakilan desa-desa untuk memastikan takbir keliling berjalan aman dan sesuai aturan,” ujar Arif.

Kesadaran Warga Meningkat, Sound Horeg Dibatalkan

Salah satu contoh nyata kesadaran warga adalah keputusan Desa Medini yang sebelumnya berencana menggunakan sound horeg.

Bahkan, mereka sudah membayar uang muka untuk menyewa perangkat suara tersebut. Namun, setelah mempertimbangkan aspek keamanan dan ketertiban, panitia desa akhirnya memutuskan untuk membatalkan penggunaan sound horeg.

Keputusan ini diambil dengan penuh kesadaran, mengingat insiden tahun 2024 di Undaan Tengah yang berujung pada bentrok antar peserta hingga menyebabkan korban jiwa.

Selain itu, Desa Kutuk juga melakukan penyesuaian dengan tidak menggunakan sound horeg.

Sebagai gantinya, mereka memilih sound berukuran kecil serta pencahayaan yang lebih sederhana agar suasana takbir keliling tetap meriah namun tidak berlebihan.

“Tahun ini, beberapa panitia masih memiliki kekhawatiran mengingat insiden tahun lalu. Namun, kami semua berharap perubahan ini menjadi awal yang baik untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama,” tambah Arif.

OGOH-OGOH: Peserta takbir keliling masih menggunakan ogoh-ogoh besar yang ada di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan.
OGOH-OGOH: Peserta takbir keliling masih menggunakan ogoh-ogoh besar yang ada di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan.

Bupati dan Wakil Bupati Turun Langsung Pantau Takbiran

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, bersama Wakil Bupati Bellinda Putri Sabrina Birton turut memantau jalannya takbir keliling di Kecamatan Undaan.

Dengan mengendarai motor trail, Bupati Sam’ani berkeliling untuk memastikan suasana tetap kondusif. Sementara itu, Wakil Bupati Bellinda terlihat dibonceng ajudannya dengan motor listrik.

Sepanjang perjalanan, mereka mengamati bahwa meskipun takbir keliling masih menggunakan ogoh-ogoh, namun jumlahnya lebih terkendali dan tertib dibandingkan tahun sebelumnya.

Pihak kepolisian dan perangkat desa terus berkoordinasi untuk memastikan tidak ada gangguan yang dapat merusak suasana malam takbir.

“Pembatasan ketat tetap diberlakukan. Peserta takbir keliling tidak diperbolehkan keluar dari desa masing-masing.

Walaupun sempat terjadi kemacetan, tetapi secara keseluruhan situasi tetap terkendali,” ungkap Bupati Sam’ani.

Tradisi Berubah Demi Kedamaian

Langkah-langkah yang diambil tahun ini membuktikan bahwa perubahan dalam tradisi bukan berarti menghilangkan esensi perayaan.

Meskipun tanpa sound horeg, semangat takbiran tetap membara. Warga tetap bisa menikmati malam takbir dengan sukacita, tanpa harus khawatir akan potensi konflik atau gesekan yang tidak diinginkan.

Keputusan untuk menertibkan takbir keliling di Kecamatan Undaan membuahkan hasil positif.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan tradisi takbiran ke depan dapat berjalan lebih harmonis dan tetap menjadi bagian dari kebudayaan yang dirayakan dengan penuh kebersamaan.

Malam takbiran tahun ini bukan hanya soal euforia, tetapi juga refleksi bagaimana masyarakat dapat menjaga tradisi dengan lebih bijak. Dengan suasana yang lebih tertib, diharapkan takbir keliling di masa mendatang bisa terus berlangsung dengan lebih aman dan nyaman bagi semua pihak.*

Editor : Mahendra Aditya
#izin takbir keliling #Sound hereg #lomba takbir keliling #takbir keliling #pawai takbir keliling #Undaan #Kudus