RADAR KUDUS - Sabtu (15/3) malam, terlihat beberapa ustadz membacakan ayat suci Alquran secara bergantian. Bacaan itu disimak dan didengarkan oleh jamaah yang hadir.
Para ustadz yang tersebut M. Riyadi Lubab, Agus Selamet, Izzudin Noor, M. Faqol Ahzab, dan M. Chasanuddin.
Pembacaan ayat suci Alquran berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam. Kemudian dilanjutkan tausiyah oleh KH. Ahmad Nadhif dari Pati. Kiai Nadhif membawakan materi ihsan Allah tidak ada batasnya.
Dirinya membawakan materi pengajian dengan gaya khasnya. Ia juga menyematkan beberapa istilah asing berbahasa Inggris pada Sabtu (15/3). Hal tersebut memiliki konotasi lucu, sehingga membuat suasana jamaah pecah dengan gelak tawa.
Pengajian diisi selama satu jam. Dengan total keseluruhan acara, dua setengah jam. Hingga di penghujung acara ditutup dengan doa bersama secara singkat.
Ketua Panitia Darusan Umum Pengajian Pitulasan, Ahmad Arinal Haq, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan mendalami Alquran melalui pembacaan dan tausiyah dari berbagai pemateri.
"Darusan umum dilakukan dengan membaca Alquran oleh beberapa ustadz, sementara yang lain menyimak. Selain itu, ada tausiyah dengan pemateri berbeda setiap hari dari Kudus, Pati, Rembang, Semarang, dan sekitarnya," ujar Ahmad.
Tema tausiyah disusun dalam garis besar setiap pekan. Pekan pertama membahas ibadah, pekan kedua tentang akhlak dan muamalah, sedangkan pekan terakhir mengangkat sejarah, kebudayaan, serta peninggalan Islam. Dengan format ini, pemateri memiliki kebebasan mengeksplorasi materi agar tidak monoton setiap tahunnya.
Nama "Pengajian Pitulasan" berasal dari tradisi pengajian setiap tanggal 17 bulan hijriah. Saat ini nama tersebut digunakan sebagai komunitas atau gerakan islam. Kini semangatnya diteruskan dalam bentuk kegiatan berbeda, terutama di bulan Ramadan.
"Kalau di masjid-masjid itu kan ada para remaja penggerak kegiatan, yang disebut dengan remaja masjid. Nah istilah Pengajian Pitulasan itu bisa diartikan remaja di masjid menara Kudus," jelasnya.
Kegiatan dimulai usai tarawih di Masjid Menara Kudus hingga pukul 23.30–00.00 WIB. Dengan lokasi utama di Gedung Menara Kudus untuk menampung peserta lebih luas.
Rata-rata tiap hari, acara ini selalu dipadati oleh peserta yang hadir. Hingga mengerahkan beberapa petugas di depan Gedung Menara Kudus untuk mengatur lalu lintas di area tersebut.
"Kami berharap kegiatan ini berjalan lancar, bermanfaat bagi masyarakat, dan didukung cuaca yang baik agar bisa berlangsung tanpa hambatan," tutup Ahmad. (dik/zen)
Editor : Noor Syafaatul Udhma