Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus Revlisianto Subekti mengatakan, Dandangan telah diakui secara nasional sebagai warisan budaya tak benda dan wajib dilestarikan.
"Alhamdulillah hingga saat ini, Dandangan masih berjalan dan akan terus kami lanjutkan. Dampak ekonominya juga signifikan, meski saya belum mengetahui pasti jumlah perputaran uang dalam event ini," ujar Revlisianto.
Ia berharap, tradisi ini bisa berkembang hingga skala nasional, sejalan dengan visi-misi bupati Kudus dalam mengangkat UMKM.
Kirab ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk perwakilan dari sembilan kecamatan, kepala desa dan kelurahan, stakeholder pariwisata, hingga Saka Pariwisata. Mereka berjalan menuju Menara Kudus sebagai simbol penyatuan masyarakat dalam menyambut Ramadan.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah menambahkan, Dandangan bukan sekadar perayaan, tetapi juga memiliki makna edukatif bagi generasi muda.
"Kirab ini menggambarkan bagaimana masyarakat dahulu berbondong-bondong ke Menara Kudus untuk mendengar tabuhan bedug sebagai tanda awal Ramadan," jelas Mutrikah.
Rangkaian acara diawali dengan Salat Asar, dilanjutkan ziarah, serta persiapan tabuh bedug oleh perwakilan Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK).
Bedug dalam Dandangan memiliki peran penting. Bukan hanya sebagai penanda waktu ibadah, tetapi juga sebagai media pengumuman awal Ramadan sejak zaman Sunan Kudus.
"Dulu, sebelum ada pengumuman resmi dari pemerintah, Sunan Kudus yang menyampaikan awal Ramadan kepada umat melalui tabuhan bedug. Tradisi ini tetap kami lestarikan, agar generasi muda memahami sejarahnya," imbuh Mutrikah.
Meski tahun ini sempat diwarnai hujan dalam perayaan tradisi Dandangan, antusiasme masyarakat tetap tinggi.
"Pemerintah berharap, Dandangan tak hanya menarik warga lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah, sehingga semakin memperkuat Kudus sebagai destinasi budaya dan religi," harapnya. (dik/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma