Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga Ketan Anjlok, Petani Undaan Kudus Bikin Petani Kembali Beralih ke Padi

Redaksi • Kamis, 27 Februari 2025 | 00:32 WIB

PETANI: Sejumlah petani ketan di Kecamatan Undaan sedang panen, kemarin.
PETANI: Sejumlah petani ketan di Kecamatan Undaan sedang panen, kemarin.

KUDUS – Turunnya harga ketan secara drastis membuat petani di Kecamatan Undaan, Kudus, mempertimbangkan kembali untuk menanam padi.

Pendapatan yang semakin menurun akibat fluktuasi harga ketan mendorong para petani mengubah strategi pola tanam mereka.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Undaan Tengah, Darwoto, dan Ketua Gapoktan Undaan Lor, Rohwan, mengungkapkan bahwa sejak 2017 mayoritas petani di daerah mereka lebih memilih ketan dibanding padi karena keuntungan yang lebih tinggi.

Pada tahun tersebut, harga ketan mencapai Rp 10.000 per kilogram, jauh melampaui harga padi yang hanya sekitar Rp 6.100 per kilogram.

"Produksi ketan bisa mencapai 8 hingga 9,5 ton per hektar, sedangkan padi hanya sekitar 7 ton.

Dengan harga saat itu, panen ketan bisa menghasilkan Rp 70 juta per hektar, dibandingkan dengan padi yang hanya sekitar Rp 51 juta," ujar Darwoto, Rabu (26/2).

Dengan selisih keuntungan yang cukup signifikan, sekitar 80 persen petani di Undaan pun lebih memilih ketan sebagai komoditas utama.

Namun, kondisi tersebut berubah drastis tahun ini. Harga ketan mengalami penurunan tajam, hanya berkisar antara Rp 6.000 hingga Rp 6.400 per kilogram.

Sebaliknya, harga padi justru mengalami kenaikan, mencapai Rp 6.700 hingga Rp 6.800 per kilogram.

Hal ini membuat petani mulai berpikir ulang, karena biaya produksi ketan yang lebih tinggi tidak lagi sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

"Untuk tahun ini, justru padi lebih menguntungkan meskipun hasil produksinya lebih sedikit," tambah Darwoto.

Meski demikian, petani juga menghadapi tantangan baru dalam menanam padi, terutama pada musim tanam kedua (MT2).

Tanaman padi rentan terhadap kondisi "asem-asemen," di mana daun berubah kemerahan dan pertumbuhannya terganggu. Sementara itu, ketan lebih tahan terhadap kondisi ini.

“Kami berharap dengan kenaikan harga padi, petani bisa kembali beralih ke tanaman ini, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.

Meski begitu, permintaan ketan tetap ada, sehingga masih akan ada petani yang bertahan menanamnya,” ungkapnya.

Anggota Komisi B DPRD Kudus, Budiyono, menilai perubahan pola tanam ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menetapkan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram. Hal ini memberikan jaminan harga bagi petani dan dapat mengubah keputusan mereka dalam memilih komoditas yang lebih menguntungkan.

"Dulu petani beralih ke ketan karena harga jualnya lebih tinggi. Tapi dengan adanya penetapan harga padi oleh pemerintah, saya kira ini bisa menjadi pertimbangan bagi petani untuk kembali menanam padi, sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional," ujar Budiyono.

Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan dukungan bagi petani melalui kebijakan harga yang berpihak kepada mereka, subsidi pupuk, serta berbagai bentuk bantuan lainnya.

"Petani adalah pahlawan pangan. Jangan sampai mereka tidak mendapatkan hasil yang layak dari kerja keras mereka," pungkasnya.(dik)

Editor : Mahendra Aditya
#Harga Padi #Harga Ketan Anjlok #gapoktan #padi #Undaan #Kudus #undaan kudus