KUDUS – Menjelang bulan suci Ramadan, warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus, kembali menggelar tradisi Sewu Sempol, Kamis (20/2).
Tradisi turun-temurun ini merupakan bentuk sedekah kubur yang dilakukan di Punden Masin, tepatnya di Makam Kramat Masin, tempat peristirahatan Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.
Warga berbondong-bondong berjalan memasuki area Punden Masin dengan membawa ingkung ayam.
Di depan makam, dipenuhi warga setempat yang akan menunaikan doa bersama setelah mengumpulkan satu sempol ingkung ayam yang dipotong.
Kegiatan berjalan lancar dan warga mengikuti serangkaian acara tersebut dengan khidmat.
Tak hanya warga Desa Kandangmas, warga dari sekitar Kudus pun turut meramaikan tradisi tersebut.
Salah satunya warga Desa Sukolilo, Mohadi mengaku tahu tradisi ini dari saudara yang di Kudus.
Ia mengatakan baru kali ini mengikuti tradisi ini bersama keluarga.
Ketua Pengurus Makam Kramat Masin, Sumartono, menjelaskan bahwa tradisi ini diadakan dua kali dalam setahun.
Pertama, pada bulan Ruwah, tepatnya Kamis di minggu terakhir, sebagai hajat warga Desa Kandangmas, khususnya Dukuh Masin.
Kedua, pada bulan besar dalam rangka haul Mbah Masin yang jatuh pada tanggal 14 besar.
Kepala Desa Kandangmas, Shofwan, menyebut bahwa upacara adat Sewu Sempol merupakan bentuk kirim doa kepada leluhur sekaligus menyambut Ramadan dengan harapan mendapat keberkahan.
“Setiap tahun tradisi ini dilaksanakan tanpa mengurangi susunan acara. Semoga segala hajat masyarakat dikabulkan dan kegiatan ini terus bermanfaat bagi semua,” ujar Sofian.
Plt Camat Dawe, Zainal Arifin, menegaskan pentingnya melestarikan tradisi ini sebagai warisan budaya yang penuh makna spiritual.
“Kita harus nguri-uri budaya leluhur agar mendapat berkah. Melalui doa-doa yang dipanjatkan, semoga semua hajat yang ki ta inginkan bisa terkabul dan diridai Allah,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Mutrikah, menyampaikan bahwa tradisi Sewu Sempol merupakan kekayaan budaya yang mencerminkan nilai gotong royong dan kearif an lokal masyarakat Kudus. (dik/ali)
Editor : Ali Mustofa