Nurul Azkiyah, guru SMPN 1 Kudus lolos pembiayaan Program Pengembangan Kompetensi Non-Gelar Microcredential Literasi di Ohio State University, Amerika Serikat.
INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Kudus
PERJUANGAN Nurul Azkiyah, guru SMPN 1 Kudus membuahkan hasil. Ia lolos sebagai salah satu penerima pembiayaan Program Pengembangan Kompetensi Non-Gelar Microcredential Literasi, The Ohio State University, Amerika Serikat.
Untuk itu, mulai Senin (18/11) hingga Jumah (22/11) 2024 Azkiyah -sapaan akrabnya- mengikuti perkuliahan di Jakarta dan diajar dosen dari Ohio State University Amerika Serikat. Selama lima hari itu, dia menerima materi bidang literasi.
”Selama di Jakarta saya menerima kuliah dari dosen Ohio State University dalam bidang literasi. Siangnya, melakukan penguatan dengan mentor alumnus Ohio State University dari Indonesia. Kemudian sorenya, saya mengikti microteaching mengenai pembelajaran literasi,” jelasnya.
Ia menjelaskan, microteaching merupakan latihan praktik mengajar singkat. Biasanya dilakukan pada akhir sesi pelatihan. ”Hanya dilakukan di Jakarta. Jadi saya tidak ke Amerika Serikar,” ungkapnya.
Azkiyah merupakan alumni Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muria Kudus (UMK) 2008. Ia bisa terpilih program perkuliahan dari The Ohio State University dari laman Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek.
”Ada dua rangkain seleksi, untuk mengikuti Program Pengembangan Kompetensi Non-gelar Microcredential Literasi. Ada seleksi administrasi kalau nggak salah pada April 2024. Lalu wawancara Oktober,” kata Azkiyah.
Meski universitasnya dari luar negeri, tapi perkuliahannya cukup di Jakarta dan nantinya akan ada tahap selanjutnya secara daring di kota masing-masing. Ia juga bercerita, diwajibkan melakukan pengimbasan ke sekolah lain.
”Yang ikut program Pengembangan Kompetensi Non-gelar Microcredential Literari ini, harus praktik ngajar di sekolah lain atau selain sekolah tempat saya mengajar saat ini (SMPN 1 Kudus, Red),” jelasnya.
Setelah program ini selesai, Azkiyah bisa mengantongi Microcredential, yakni sertifikat atau kredensial yang diberikan kepada individu setelah menyelesaikan program pembelajaran atau pelatihan jangka pendek yang berfokus pada keterampilan atau kompetensi spesifik.
”Ya meski tidak mendapatkan gelar, setidaknya mendapatkan sertifikat bertaraf internasional,” ujarnya.
Azkiyah bersaing dengan 591 pendaftar, mulai dari guru PAUD, SD, hingga SMP. Dari jumlah itu, diambil 60 guru yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia. Ia tak menyangka bisa lolos.
”Persaingannya memang cukup ketat. Dari seluruh Indonesia. Yang paling menentukan saat itu sesi wawancara. Benar-benar diuji mengenai literasi, tentang karakter siswa, dan mengenai konsep pembelajaran saat mengajar,” ungkapnya.
Perempuan berkacamata ini, juga berpesan kepada para guru untuk terus belajar dan tak ragu mengikuti program-program dari pemerintah. Sebab, bisa bermanfaat menggugah kinerja dan kreativitas sebagai guru. Dengan begitu, tidak monoton saat mengajar.
”Ya ilmu memang perlu di-update. Dengan mengikuti program-program (dari pemerintah) tersebut, bisa menjadi pengalaman dan mengukur kemampuan,” imbuhnya. (*/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma