Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Takut Melapor, Siswa SMA di Kudus yang Diduga Di-bully Oknum Guru Curhat lewat Chat Pribadi

Indah Susanti • Sabtu, 24 Agustus 2024 | 17:09 WIB

 

KONFIRMASI: Plt Kepala SMAN 1 Bae Kudus Puji Rahayu saat memberikan keterangan di ruangannya kemarin.
KONFIRMASI: Plt Kepala SMAN 1 Bae Kudus Puji Rahayu saat memberikan keterangan di ruangannya kemarin.

KUDUS – Lebih dari satu siswa di SMAN 1 Bae diduga mendapatkan aksi bullying atau kekerasan oleh salah satu guru pengampu ekstra Paskibraka.

Informasi tersebut didapat dari salah satu curhatan siswa di salah satu pesan chat privat whatsapp.

Curhatan itu menyebut ada yang mendapat kekerasan fisik seperti dipukul, tampar hingga dicubit.

Selain mengaku mendapat perlakuan kasar, curhatan tersebut juga menyebut bahwa beberapa siswa takut melapor.

Karena tidak mendapatkan respon yang baik dari sekolah. Termasuk melapor pada guru Bimbingan Konseling (BK).

Mendapatkan info tersebut, wartawan Jawa Pos Radar Kudus mendatangi sekolah siswa tersebut dan ditemui langsung oleh Plt Kepala SMAN 1 Bae Puji Rahayu.

Saat ditemui, kemarin (23/8) 2024 menerangkan,  kejadian itu memang benar adanya.

Namun, ditengah ramai dugaan bullying itu, pihak sekolah mengatakan itu merupakan kesalahpahaman. Pihaknya juga telah meminta klarifikasi dari guru terkait dan beberapa siswa.

“Jadi itu pas ada kegiatan upacara bendera (17 Agustus 2024), ada beberapa siswa yang tidak ikut serta yang dilihat dari absensi.

Mereka yang tidak ikut diminta untuk upacara mandiri lagi. Sedikit ada cek cok karena mengungkapkan argumennya,” kata Puji.

Beberapa siswa merasa mengikuti upacara bendera dan sebagai petugas, namun karena tidak mengisi absensi sehingga tetap mengikuti sanksi tersebut.

Puji menilai bahwa guru pembimbing paskibra memang memiliki karakter yang tegas, sehingga terjadi kesalahpahaman.

“Saya juga minta keterangan sama anak-anak, dan mereka baik-baik saja. Cuma karena tegasnya guru pembimbing paskibraka itu jadinya ada yang merasa terintervensi,” tambahnya.

Usai adanya kejadian ini, Puji pun langsung melakukan refleksi internal terkait dengan kehati-hatian dari para tenaga pendidik terhadap penanaman pendidikan karakter.

Terlebih di era sekarang yang sangat berbeda dengan era dahulu.

“Anak sekarang kan tidak seperti dahulu. Guru tegas nanti dinilai melakukan kekerasan, takutnya kalau kita tidak tegas malah pendidikan karakter anak akan diabaikan. Tegas itu juga bentuk kasih sayang guru untuk kebaikan anak,” tambahnya.

Lebih lanjut, Puji juga telah berkomunikasi kepada seluruh peserta didik agar tidak perlu merasa cemas dan takut untuk menjalin komunikasi dengan guru maupun pihak sekolah.

Pihaknya menekankan, sekolah selalu terbuka untuk segala kritikan.

“Harapannya kita bisa saling mengisi dan saling menyadari, karena guru juga manusia dan murid adalah anak yang sedang tumbuh. Harus jembar segarane, dowo usus e (harus luas samudra, panjang ususnya) artinya sabar” tandasnya. (san/him)

Editor : Ali Mustofa
#tenaga pendidik #bullying #siswa #sekolah #paskibraka #kekerasan #paskibra #Kudus #upacara bendera #pendidikan