KUDUS – Sri Puji Astuti (34), salah satu peserta JKN asal Desa Purwosari, Kabupaten Kudus adalah seorang Ibu dari anak yang sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Sarkies Aisyiyah Kudus.
Puji, sapanya sempat khawatir jika menggunakan JKN, anaknya tidak mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Saya sempat khawatir dan ragu apakah di Rumah Sakit Sarkies ‘Aisyiyah, anak saya dapat berobat menggunakan JKN atau tidak," tutur Puji saat ditemui di ruang rawat inap Rumah Sakit Sarkies ‘Aisyiyah Kudus.
"Waktu pendaftaran administrasi itu, suami saya tanya dulu bisa atau tidak menggunakan JKN, lalu pihak rumah sakit bilang bisa tapi dicek dulu kartunya masih aktif atau nggak, ternyata aktif dan langsung dapat pelayanan. Saya sangat beryukur,” lanjutnya.
Sang anak, Sharla (6), harus dirawat inap melalui alur pelayanan IGD. Ia mengalami demam tinggi dan muntah pada siang harinya.
Di malam harinya, Puji membawanya ke IGD karena kondisi demam yang tidak kunjung turun dan muntah yang semakin parah.
“Hari sebelumnya memang sudah berobat di Klinik, sudah diberikan obat juga. Tapi kondisinya tidak ada perubahan, malam harinya masih demam tinggi dan semakin parah muntahnya, jadi langsung saya bawa ke IGD agar dapat infus biar ada cairan yang masuk soalnya muntah-muntah terus takut dehidrasi,” jelas Puji.
Dalam keadaan gawat darurat, Puji dan suami harus mengambil keputusan cepat untuk membawa anak mereka ke rumah sakit terdekat dan memastikan Sharla mendapatkan perawatan sesegera mungkin.
"Dalam situasi mendesak seperti ini, setiap menit sangat berharga. Jadi kami memilih rumah sakit yang hanya beberapa menit dari rumah. Hal ini membuat kami lebih mudah untuk bolak-balik ke rumah jika ada keperluan mendesak," ujar Puji.
Puji sendiri mengaku puas dengan pelayanan Program JKN, khususnya di Rumah Sakit Sarkies Aisyiyah Kudus, karena sudah menerapkan sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang menstandardisasi kamar rawat inap.
“Saya merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, kamarnya bersih, satu ruangan terdiri dari empat kamar yang dibatasi dengan gorden. Saya senang karena kamar ini khusus untuk pasien anak jadi tidak dicampur dengan pasien dewasa,” ucap Puji.
Selama pengobatan dilakukan mulai dari pendaftaran administrasi, Puji tidak ditarik biaya apapun, Puji juga tidak mengalami pemaksaan saat dirinya ditanya apakah anaknya ingin naik kelas kamar atau tidak.
“Waktu pendaftaran administrasi, pertama ditanya terlebih dahulu apakah ingin naik kelas kamar jadi kelas satu atau tidak, saya jawab tidak, sesuai kelas saja. Tidak ada pemaksaan sama sekali waktu menawarkan naik kelas itu. Setelah ditanya, kemudian disuruh tanda tangan administrasi bahwa melakukan pengobatan dengan JKN,” lanjut Puji.
Puji juga menceritakan pengalamannya selama menjadi peserta JKN segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) selama 8 tahun.
“Selama ini tiap berobat saya selalu menggunakan JKN, termasuk saat saya melahirkan Sharla di RS Aisyiyah Kudus. Saat itu saya ditempatkan di kamar yang berisikan dua orang. Selain itu, ketika saya dan keluarga sakit ringan juga berobat di Klinik," ungkap Puji.
"Baru kali ini menggunakan JKN di RS Sarkies Aisyiyah, awalnya saya ragu karena ini kan rumah sakit baru, takutnya tidak bisa pakai JKN, ternyata rumah sakit ini juga sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan,” terangnya.
Kondisi Sharla saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit tersebut. Keluarga Puji berharap agar Sharla segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
"Kami berterima kasih dengan adanya Program JKN karena telah menjamin semua biaya pengobatan anak saya, semoga anak saya lekas sembuh," tutup Puji.
Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya Program JKN dalam memberikan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau bagi masyarakat, terutama dalam situasi mendesak seperti ini, banyak keluarga yang merasa lebih tenang dan terbantu saat kondisi gawat darurat. (*)
Editor : Ali Mustofa