KUDUS – Pengungsi dari Kabupaten Kudus maupun Demak resmi kembali ke rumahnya masing-masing kemarin. Namun, mereka waswas bencana banjir akan datang lagi.
Para pengungsi yang pulang kemarin sekitar pukul 09.00 itu, di antaranya dari Desa Karangrowo, Undaan, Kudus, yang sebelumnya berada di DPRD Kudus.
Mereka diantar menggunakan truk TNI, Satpol PP, dan bus sekolah milik Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus.
Kepala Desa Karangrowo Heri Darwanto mengatakan, kondisi terkini banjir di desanya sudah 75KUDUS persen surut.
Namun, di Dukuh Krajan masih terendam. Warga yang kembali ke rumah sementara waktu akan mengungsi ke rumah saudaranya.
”Warga mengungsi sejak 16 Maret lalu. Jadi, ini (kemarin, Red) sudah di pengungsian selama 12 hari,” ungkapnya.
Baca Juga: Ini Dia Nama-nama Pemenang Lomba Bonsai Tingkat Nasional di Grobogan, Berikut Daftarnya!
Dia menyebut, Desa Karangrowo kondisi wilayahnya memang cekungan. Ini akan membuat air mengendap jika intensitas hujan tinggi.
Untuk itu, pihaknya meminta solusi kepada pemerintah agar ada normalisasi Sungai Wulan, Sungai Juana, dan anak sungai lain.
Jika upaya ini tak dilakukan, potensi banjir akan datang lagi di tahun depan.
”Puluhan tahun belum ada normalisasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kudus Masan mengatakan, pihaknya menyiapkan logistik kepada pengungsi yang pulang.
Bantuan ini sebagai upaya pemulihan warga pascabencana.
”Isinya memang tak seberapa. Kami harapkan ini bisa membantu warga pascabanjir,” katanya.
Kemarin, DPRD Kudus juga memberi hadiah perpisahan kepada pengungsi. Mereka menyantap hidangan gulai kambing untuk berbuka puasa.
Terpisah, Kasi Pencegahan Alifatru Rohman mengatakan, posko pengungsian di DRPD Kudus resmi ditutup kemarin. Semua warga yang terdampak telah pulang.
Selain DPRD, posko pengungsian Gedung JHK yang digunakan pengungsi dari Demak juga ditutup.
”Pengungsi dari Kabupaten Demak masih ada yang bertahan di rumah warga di Kudus,” imbuhnya.
Imbas banjir membuat lahan pertanian di wilayah Kabupaten Kudus terancam puso atau gagal panen.
Akibatnya, petani mengalami kerugian hingga Rp 44 miliar.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, banjir melanda persawahan di lima kecamatan.
Meliputi Kecamatan, Jati, Undaan, Jekulo, Mejobo, dan Kaliwungu.
Total lahan terdampak seluas 3.839 hektare dan diperkirakan 2.495 hektare gagal panen.
Menurut Kabid Tanaman Pangan dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Agus Setiawan, mayoritas pertanian yang tergenang banjir masih dalam masa semai.
Kecamatan Undaan menjadi wilayah paling dominan terdampak banjir. Dengan luas lahan 2.540 hektare. Perkiraan puso seluas 2.495 hektare.
Baca Juga: Tiga Caleg PDIP Suara Tinggi Mundur DPC Masih Bungkam Soal Alasan, Kira-Kira Kenapa Ya?
”Area sawah yang mau panen di Desa Karangrowo, Undaan Lor, dan Wates,” katanya.
Ia menyebut, meski selamat, tapi imbas banjir membuat kualitas gabah menurun.
Sebelumnya, per hektare sawah dapat menghasilkan 7-8 ton gabah.
Namun, karena banjir gabah yang dihasilkan kurang dari 5 ton per hektare.
”Dampak banjir bisa mengurangi produktivitas dan durasi masa tanam menjadi terkendala. Kerugiannya bisa sampai Rp 44 miliar,” terangnya.
Baca Juga: Kunjungi Kantor Jawa Pos Radar Kudus, Ini yang Dibicarakan Pj Bupati Hasan Chabibie
Tak hanya tanaman padi, komoditas pertanian lain juga ikut terkena dampak banjir, seperti tanaman melon di Kecamatan Kaliwungu seluas 135 hektare.
Salah seorang petani Desa Karangrowo, Undaan, Kudus, Hawi Sukamto mengatakan, lahan seluas 9 hektare miliknya belum bisa dipanen, lantaran masih tergenang air setinggi 1,5 meter.
Akibatnya, mesin pemanen tak bisa masuk.
Rencananya, padi miliknya dipanen pada Senin (11/3) lalu. Namun, justru terancam gagal panen.
”Kerugian per hektare sekitar Rp 10 juta. Karena hanya bisa menghasilkan gabah kurang dari 8 ton,” ujarnya. (gal/wat)
Editor : Ali Mustofa