Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SEJARAH Tradisi 'Nganten Mubeng' di Masjid Wali Loram Kulon Kudus, Agar Rumah Tangga Diberkahi Allah SWT

Indah Susanti • Senin, 18 Maret 2024 | 03:09 WIB
KIRAB MANTEN: Pasangan pengantin foto bersama di depan Gapura Paduraksa Masjid Wali Loram Kulon usai melaksanakan tradisi kirab manten.
KIRAB MANTEN: Pasangan pengantin foto bersama di depan Gapura Paduraksa Masjid Wali Loram Kulon usai melaksanakan tradisi kirab manten.

KUDUS - Masjid At Taqwa atau yang biasa disebut sebagai Masjid Wali Loram Kulon adalah tempat ibadah yang di bangun di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus.

Masjid Wali Loram dibangun pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim yakni Tjie Wie Gwan.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur Jawa-Hindu yang dikombinasikan dengan gaya Timur Tengah.

Terlihat pada serambi masjid dengan ornamen seperti masjid-masjid yang ada di Timur Tengah.

Persis di depan masjid ada gapura mirip yang ada di Menara Kudus, dinamakan Gapura Paduraksa.

Masjid Wali Loram Kulon dan Gapura Paduraksa termasuk bangunan benda cagar budaya (BCB) yang telah ditetapkan sejak 1992.

Masjid dan gapura tersebut memiliki cerita sejarah yang sampai sekarang ini masyarakat Desa Loram Kulon termasuk Loram Wetan, masih melaksanakannya.

Yakni, tradisi Nganten Mubeng atau Kirab Manten di Masjid Wali Loram Kulon.

Tradisi ini mewajibkan para pengantin baru melewati pintu barat dan timur masjid yang berupa gapura klasik batu bata merah bercorak Hindu setelah prosesi ijab qobul. 

Hal itu menurut cerita Juru Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Gapura dan Masjid Wali Loram Kulon Afroh.

Disebutkan pada masa itu, karena banyaknya yang menikah, untuk mempersingkat waktu maka Tjie Wie Gwan berpetuah pada para pengantin yang telah sah untuk mengelilingi gapura.

Pengantin tersebut lalu akan di doakan dari depan Masjid dan disaksikan oleh warga setempat. 

Tradisi Nganten Mubeng tersebut merupakan upaya mengingatkan dan mendekatkan cikal bakal keluarga baru agar selalu dekat dengan Allah.

Tradisi tersebut menjadi ciri khas umat Islam yang tinggal di sekitar Masjid Wali Loram Kulon (Masjid At-Taqwa).

Masjid Wali Loram didirikan pada 1596-1597 masa peralihan Hindu-Budha ke Islam.

Masjid ini dibangun Tjie Wie Gwan, seorang pengembara muslim dari Campa, Tionghoa, yang mendarat di Jepara semasa pemerintahan Ratu Kalinyamat. 

Waktu itu, Jepara masih di bawah Kerajaan Demak.

Seiring berjalannya waktu, Tjie Wie Gwan yang menjadi orang kepercayaan Sultan Hadirin (suami Ratu Kalinyamat), dipercaya menyebarkan agama Islam di Kudus. 

Bersama Sultan Hadirin yang juga menantu Sunan Kudus, Tjie Wie Gwan membuat masjid dengan gapura menyerupai pura di Bali.

Bangunan masjid yang terbuat dari kayu jati, dilengkapi menara, sumur tempat wudhu dan beduk.

Berkat jasanya tersebut, Ratu Kalinyamat menganugerahi Tjie Wie Gwan nama baru, Sungging Badar Duwung.

Afroh mengatakan, sekarang ini telah menjadi destinasi wisata religi.

Banyak orang dari luar Kudus datang ke Masjid Wali Loram Kulon, bahkan sengaja datang di bulan ramai orang menikah untuk menyaksikan langsung tata cara Kirab Manten. (san).

Editor : Dzikrina Abdillah
#At taqwa #sejarah #masjid #Nganten Mubeng #Sunan #tradisi #Kudus #loram #wali