KUDUS - Pengungsi terdampak banjir asal Desa/Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak di Posko Balai Desa Jati Wetan, Jati, Kudus, mulai ada yang mengeluhkan kondisi kesehatan.
Petugas Puskesmas Karanganyar, Demak, yang berjaga di posko pengungsian Siti Muntiah mengatakan, keluhan para pengungsi kebanyakan pegal linu, meriang, batuk pilek, dan gatal-gatal.
”Mungkin karena mereka (para pengungsi, Red) kecapekan dam pikiran,” katanya kemarin.
Sedangkan, untuk penyakit kronis yang disebabkan bencana banjir, Muntiah menyebut, belum ditemukan di posko pengungsian Balai Desa Jati Wetan.
Baca Juga: Bantu Korban Banjir Demak, BPBD Kudus Buka Tiga Posko Pengungsian, Disini Lokasinya
Kendati demikian, ada pengungsi yang menderita stroke. Namun sudah diderita sejak lama.
”Kami observasi saja. Karena sakit strokenya sudah lama dan sudah pengobatan rutin. Orangnya memang sudah sepuh,” terangnya.
Rata-rata, ada 25 orang yang memeriksa kesehatan atau mengeluhkan kesehatannya di posko kesehatan. Hingga kemarin, sudah ada 15 orang yang berobat.
Muntiah menambahkan, kebutuhan obat-obatan di posko pengungsian Balai Desa Jati Wetan masih tercukupi.
Puskesmas Karanganyar juga mendapat bantuan obat-obatan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.
Baca Juga: Cerita Warga Karanganyar Demak Korban Banjir 2 Meter: Trauma dan Tak Makan Sehari Semalam
”Hari ini (kemarin, Red) kami jaga bersama petugas dari Puskesmas Ngembalrejo (Kudus). Setiap sif jaga harus bawa obat-obatan. Jadi, kalau masalah obat terpenuhi. Tidak kurang,” imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, bantuan untuk korba banjir terus berdatangan.
Terutama di Balai Desa Jati Wetan yang jumlah pengungsinya paling banyak.
Baca Juga: Update Banjir Jalur Pantura Kudus-Semarang: Lalu Lintas Lumpuh Total, Kemacetan Hingga 1 Km
Para pengungsi tercukupi kebutuhannya. Mulai dari bahkan makanan dan minuman, pakaian, sandal, hingga selimut.
Namun, kebutuhan logistik untuk bayi dan balita mengalami kekurangan.
Terutama ketersediaan susu formula, popok, serta selimut khusus bayi dan balita.
Seperti yang dialami Siti Solihah, pengungsi di Balai Desa Jati Wetan asal Desa Babatan, Kecamatan Karangayar, Demak.
Dia mengungsi bersama ayah, ibu, dan anaknya yang baru berusia tiga bulan.
”Saya butuh susu formula. Karena waktu menyelamatkan diri hanya membawa satu dos susu formula. Susu yang saya berikan memang seduhannya tidak kental, karena saya irit takut kehabisan,” ujarnya.
“Airnya juga pakai air biasa, bukan air panas. Popok juga tidak bawa dan belum dapat bantuan. Anak saya juga tidak mandi, hanya cukup sibinan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kudus Darini mengatakan, anak dari Siti Solihah mendapatkan perhatian khusus.
Sebab, usianya masih tiga bulan. Selain itu, ia juga memantau ibu hamil yang jumlahnya ada tiga orang.
”Kami siapkan makanan yang bernutrisi untuk ibu hamil. Untuk bayi yang masih butuh susu formula kami sudah persiapan (baru mulai kemarin, Red). Balita juga kami pantau kesehatannya," ujarnya.
"Karena mereka tidurnya hanya beralaskan seadanya. Makanannya juga seadanya. Jadi pemenuhan gizi kami perhatikan. Tapi susu formula untuk balita belum ada. Yang ada baru untuk bayi,” lanjutnya. (san)
Editor : Ali Mustofa