Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kolaborasi BLDF Foundation Jaga Hutan Muria Kudus Terdeteksi 14 Macan Tutul

Galih Erlambang Wiradinata • Kamis, 30 November 2023 | 01:54 WIB
PEDULI MURIA: Program Director BLDF FX Supanji (kanan) memantau lokasi pembibitan pohon di Djarum Oasis.
PEDULI MURIA: Program Director BLDF FX Supanji (kanan) memantau lokasi pembibitan pohon di Djarum Oasis.

 

KUDUS - Perlindungan hutan Gunung Muria beserta habitatnya terus digencarkan sampai detik ini.

Pasalnya macan tutul khas pegunungan Muria keberadaanya masih ada. Terkini tercatat sebanyak 14 ekor macan tutul yang terdeteksi.

Program Director Bakti Lingkungan Djarum (BLDF) Foundation, FX Supanji, mengatakan konservasi alam di Gunung Muria mulanya adalah gerakan penanaman pohon semata.

Beriringan dengan aksi tersebut pihaknya memasang kamera pemantau untuk mengetahui proses reboisasi hutan pegunungan Muria.

Berjalannya waktu, di tengah program reboisasi tersebut terpantau aktivitas fauna langka seperti macan tutul Muria.

Dari situlah niat BLDF mulai serius melalukan konservasi alam agar habitat yang ada terjaga.

"Kami berkolaborasi dengan peneliti, status hutan Muria lindung bisa dijadikan taman hutan raya itu bisa dikelola keselamatannya," katanya.

Pihaknya berkomitmen menjaga habitat macan tutul ini beserta isinya.

Sampai sekarang total ada 14 macan tutul yang terpantau kamera trap yang dipasang di hutan Muria.

Langkah pelestarian lingkungan ini harus dijaga dengan berkolaborasi bersama semua elemen masyarakat maupun pemerintah setempat.

Terjaganya alam akan membuat manusia dengan fauna mampu hidup berdampingan.

Kolaborasi konservasi ini menggandeng Komunitas Pegiat Konservasi (PEKA) Muria.

Komunitas yang bermarkas di Desa Colo ini mengaku konservasi hutan Muria dilakukan pada tahun 2015 silam. Gerakan awalnya adalah menanam pohon.

Salah satu anggota PEKA Muria, Teguh Budi Wiyono menyatakan, konservasi saat ini fokus pada pemantauan satwa dan pemulihan habitat.

Lokasi konservasi berada di wilayah Gunung Muria meliputi Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati.

Hingga sampai dengan saat ini, jumlah kamera trap yang dipasang ada 80. Lokasi pemasangannya tersebar di 40 titik.

"Kami berupaya melestarikan flora dan fauna. Dengan menanam pohon endemik Muria, pemasangan kamera trap untuk pemantauan satwa," ungkapnya

Tak berhenti di situ, konservasi ini perlu melibatkan peran masyarakat di sekitar hutan Muria.

PEKA Muria melakukan pendekatan kepada para petani di pinggir hutan untuk ikut melestarikan alam.

Teguh menambahkan, masyarakat di sekitar hutan punya peran signifikan untuk menjaga kondisi alam.

Mereka akan mengawasi dan mencegah para pemburu yang masuk ke hutan lindung.

"Alam Muria butuh kerja sama beberapa pihak untuk upaya pelestarian, bukan hanya masyarakat lokal. Peraturan Daerah, Perdes sangat dibutuhkan untuk perlindungan flora fauna," ungkapnya.

Lewat aski pelestarian lingkungan ini, Teguh berharap ada peningkatan status hutan lindung menjadi taman nasional atau cagar alam. (gal)

Editor : Ali Mustofa
#macan tutul #konservasi alam #Gunung Muria #cagar alam #Kudus