Redaktur Jawa Pos Andri Teguh Pryantoro mengatakan, redaktur merupakan pembaca pertama tulisan wartawan. Dalam proses perubahan tulisan, wartawan juga perlu tahu. Karena hal itu merupakan upaya untuk membimbing wartawan.
”Transfer ilmunya akan lebih mudah ditangkap. Juga bisa sebagai ajang diskusi bersama dan menjalin kedekatan dengan wartawan. Jangan sampai editing tidak dilibatkan,” katanya.
Dalam sharing itu, Andri memberikan beberapa contoh kalimat keliru dan ditunjukkan pula pembetulannya. ”Suatu hal yang menjadi keresahan pemberitaan saat ini, adanya opini dalam berita. Padahal yang harus disampaikan itu fakta,” terangnya.
Berita yang dibuat, harus menyuguhkan tulisan yang mudah dipahami (to the point), nyaman dibaca, kalimat harus selaras, tidak mengulang diksi, serta akurat.
Redaktur halaman Sportainment Jawa Pos Ali Mahrus mengungkapkan apresiasi terhadap redaksi Radar Kudus yang setiap hari masih bisa bertemu antara pimpinan sampai dengan wartawan. ”Beruntung di Radar Kudus ini masih bisa mudah berkumpul,” jelasnya.
Sama halnya yang disampaikan oleh Andri, interaksi antara redaktur dan wartawan tidak boleh hilang. ”(Redaktur) ngedit duduk bareng (dengan wartawan) itu akan jauh lebih efektif,” ujarnya.
Editor berita olahraga itu, juga tidak lupa menyampaikan tentang pentingnya membangun kedekatan dengan narasumber. Karena hal itu akan mempermudah wartawan untuk mendapatkan informasi.
Sementara itu, Redaktur Foto Jawa Pos Beky Subechi memberikan garis besar dalam urusan foto. Foto jurnalistik itu, jangan hanya bagus secara visual, tetapi juga dapat menghasilkan foto yang bisa berbicara. ”Harus lebih detailnya lagi. Sampai dengan pelajari juga karakter tokoh yang akan difoto,” terangnya.
Hal itu ia contohkan saat ia berhasil mendapatkan foto pemain bulu tangkis Taufik Hidayat. Secara eksklusif, ia dapat memotret raja backhand smash itu, saat mengusap keringat. Air keringatnya kelihatan dengan jelas.
”Saya mencoba mengambil sisi yang beda. Kalau memotret Taufik saat pegang handuk waktu break main itu sudah biasa. Saya pelajari karakternya yang suka mengusap keringat di wajahnya,” ungkapnya.
Pada sesi penutup, Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi menyebut, pada akhirnya acara ini merupakan ajang untuk belajar. Untuk meningkatkan kualitas. Usai sharing ilmu itu, laki-laki yang menjadi wartawan di Jawa Pos lebih dari 25 tahun ini, juga memberikan motivasi agar wartawan tidak boleh merasa pintar, kemudian berhenti belajar dan sharing.
”Yang penting bagaimana bisa terus belajar, karena persoalan jurnalisme itu tidak akan ada habisnya,” ujarnya. (ark/lin) Editor : Ali Mustofa