Merpati-merpati ini juga memiliki ciri-ciri berbeda. Merpati dari Turki cirinya ada jambul di kepala. Kalau yang dari Amerika ukurannya agak lebih besar dari merpati Indonesia pada umumnya dan ada ciri khas warna hijau di leher dan warna bulu merpati cenderung gelap.
Manajer Taman Seribu Merpati Aris Robianto menjelaskan, taman tersebut baru opening pada Januari. Merpati didapatkan dari beberapa negara seperti Turki, Pakistan, Iraq, Amerika, dan lainnya. “Luas taman 1.750 meter persegi,” ujarnya.
Selain mengambil merpati dari luar negeri, pihaknya mengambil merpati dari lokal. Seperti Pati, Blora, Rembang, Demak, dan Purwodadi.
"Selain merpati, pengunjung juga dapat mengetahui jenis burung falk, love bird, parkit, serta ada ayam, angsa sebagai pelengkap,” katanya.
Robi-sapaan akrabnya itu menjelaskan pertimbangannya mengambil merpati dari luar negeri yakni sebagai tempat untuk edukasi. Terlebih menurutnya, dia belum menemukan edu wisata tentang merpati di Kudus.
Dia mengatakan, awalnya membuat Taman Seribu Merpati untuk tempat refreshing bagi santri berkebutuhan khusus yang mondok di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah. Namun, perlahan banyak warga yang tertarik berkunjung.
"Lambat laun pengunjung yang datang malah banyak sampai sekarang," terangnya.
Lebih lanjut, dalam sehari jumlah pengunjung di taman ada 50 orang. Mereka berasal dari berbagai tempat seperti Kudus, Demak, Juwana, Blora, dan daerah lainnya.
“Harapan kami pengunjung yang datang bisa berwisata sambil beramal ke santri yang notabene yatim dan duafa,” katanya.
Salah satu pengunjung Yanti, dari Desa Barongan mengatakan baru pertama kali mengunjungi taman merpati tersebut. Dia menyempatkan berkunjung berhubung libur.
“Suasananya tenang, lalu tertarik waktu tahu ada beragan jenis merpati dari beberapa negara seperti Amerika dan Pakistan,” ungkapnya. (ark/mal) Editor : Ali Mustofa