Pasalnya, koran berbeda dengan media sosial maupun media online. Meliputi konten berita yang sesuai kaidahnya. Di antaranya memiliki karekteristik mendalam, memiliki news value, serta harus akurat. Sehingga berita yang ditulis tidak salah. ”Koran tetap harus hidup. Kalau kontennya tidak sesuai karakteristik koran, koran itu akan mati,” tegas Baehaqi.
Pembelajaran awal kelas itu dimulai dengan pertanyaan Baehaqi kepada peserta ngaji. Membedakan konten di media cetak, online, dan media sosial. Peserta disuruh maju satu per satu. Disuruh membedakan ketiga media itu.
Hasil diskusi, peserta ngaji sepakat media cetak memiliki karakter mendalam, detail, sesuai rukun iman koran, punya sisi lain, ekslusif, dan akurat atau tidak boleh salah. Mendalam kemudian dijabarkan lagi menjadi lebih detail atau rinci, alasan di balik peristiwa, mengapa peristiwa itu terjadi, memiliki multiple side, ada sisi lain, ada pendiskripsian, dan bagaimana persitiwa itu terjadi.
Tak hanya dari segi karakteristik. Berita yang ditampilkan pun harus memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Bisa untuk mengkritisi, menghibur, mengedukasi, hingga memberi informasi yang informatif. ”Semua yang kita keluarkan itu informasi, tetapi belum tentu informatif,” ujar sosok direktur yang lebih dari 32 tahun jadi wartawan.
Itu sesuai misi utama koran, berupa social control. ”Bila itu semua tak ada lagi di koran, maka maqam koran sudah tidak ada,” imbuh Baehaqi.
Karena koran berupa media berbayar, maka tampilan halamannya pun harus lebih kreatif. Terutama dari segi desain. Desain tidak boleh sama dengan media sosial dan web.
Selain itu, sebagai pembuat berita harus memosisikan diri sebagai pembaca. Sehingga paham apa yang diinginkan pembaca. Wartawan tidak hanya bikin konten di koran baik, tetapi juga mencari berita yang dicari orang.
”HPN kali ini mestinya menyadarkan pada hal-hal itu. Karena yang namanya pers, didefinisinya ya media cetak,” tandas Baehaqi.
Lewat HPN, juga jadi sarana meneledani sosok Tirto Adhi Soerjo serta Pramoedya Ananta Toer sebagai tokoh pers. Dua sosok tersebut saat berada kondisi sulit, justru semakin semangat untuk menulis. Terbukti, karya-karya fenomenal tokoh tersebut keluar saat dipenjara.
”Wartawan ketika semakin sulit mendapatkan data, maka semakin tertantang. Kesulitan itulah yang jadi bahan tulisan,” ungkapnya.
Refleksi HPN di Radar Kudus dilanjutkan dengan kegiatan tumpengan. Itu diikuti seluruh karyawan Radar Kudus. (rom/zen) Editor : Ali Mustofa