Warga terdampak banjir ini di empat kecamatan. Meliputi, Kecamatan Kaliwungu ada di Desa Setrokalangan, Kedungdowo, dan Banget. Di Kecamatan Mejobo, di Desa Temulus, Mejobo, Payaman, Gulang, Hadiwarno, Kesambi, dan Kirig. Sedangkan di Kecamatan Jati, di Desa Jati Wetan, Tangjungkarang, dan Jetis Kapuan. Di Kecamatan Undaan yang terdampak di Desa Karangrowo, Ngemplak, Undaan Lor, dan Wates.
Sementara itu, warga Desa Jati Wetan, Jati, Kudus, yang mengungi di balai desa setempat bertambah menjadi 233 jiwa kemarin. Sejak Sabtu (31/12) lalu, jumlah pengungsi di Desa Jati Wetan hanya 175 jiwa. Sedangkan wilayah yang terdampak terdiri dari Dukuh Tanggulangin, Gendok, dan Barisan
Kepala Desa Jati Wetan Agus Susanto mengatakan, rincian pengungsinya, 12 bayi, 49 anak, 26 remaja, 127 dewasa, dan 19 lansia. Sedangkan rumah yang terdampak lebih dari 100.
Untuk kebutuhan logistik pengungsi, beras yang disediakan 260 kilogram, telur 60 kilogram, dan mi instan enam kardus. Jumlah itu diperkirakan aman hingga hari ini.
Sedangkan untuk hari ini, logistik dipastikan menipis. Bantuan dari pemerintah kabupaten (pemkab) yang telah disalurkan dipastikan telah habis. ”Kami tetap usahakan persediaan logistik besok (hari ini, Red). Semoga ada penyaluran bantuan," harapnya.
Pemerintah desa juga mengupayakan bantuan logistik untuk dikirim kepada warga yang masih bertahan di rumah. Nasi bungkus dikirimkan ke lokasi banjir dua kali sehari.
Eva, 33, warga Dukuh Barisan mulai mengungsi di aula Balai Desa Jati Wetan sejak kemarin. Ketinggian air di rumahnya mencapai 60 sentimeter atau sepinggang orang dewasa. ”Kami mengungsi bersama empat orang. Rumah saya sudah sepinggang airnya," jelasnya.
Sedangkan Ketua RT 5/RW 3, Desa Jati Wetan, Ridwan memilih bertahan di rumahnya. Sedangkan keluarganya mengungsi di rumah saudara. ”Kebutuhan logistik bahan mentah sudah dikirim pihak desa. Cukup untuk hari ini (kemarin, Red). Sementara untuk besok (hari ini, Red) dipastikan sudah habis. Kami minta dikirim nasi bungkus," katanya.
Ia berharap, ada bantuan perahu untuk distribusi logistik ke rumah warga. Sementara waktu, warga memakai ban yang dirakit menjadi perahu untuk mendistribusikan logistik.
Di Kecamatan Mejobo, Kudus, akibat limpasan Sungai Piji dan Sungai Dawe memperburuk kondisi banjir di wilayah itu. Bahkan, dapur umum di Balai Desa Temulus, Mejobo, ikut tergenang. Ketinggian di dalam ruangan sekitar 30 sentimeter. Sedangkan di halaman sekitar 50 sentimeter. Meski terendam, ibu-ibu tetap memasak untuk warga Desa Temulus yang terdampak banjir.
Kepala Desa Temulus Suharto menyatakan, air menggenangi area balai desa sejak kemarin pagi sekitar pukul 08.00. Hal ini akibat luapan Sungai Piji dan Dawe. ”Dapur umum tidak dialihkan, karena ibu-ibu ingin tetan di sini (Balai Desa Temulus, Red). Sedangkan untuk tempat pengungsian dipindah ke Madrasah Hidayatus Sibiyan,” jelasnya.
Dia menuturkan, warga yang terdampak banjir totalnya mencapai 2.500 jiwa. Namun, warga memilih bertahan di rumah. Hanya ada empat orang lansia yang dievakuasi. Ketinggian air di permukiman 50 sentimeter hingga 1 meter. Lokasi terdampak berada di 15 RT di RW 1, 2, dan 3.
Selian itu, kemarin relawan mengevakuasi warga yang mengalami stroke. Warga bernama Daryatin, 57, yang tinggal di RT 1/RW 2 itu, sudah tiga tahun ini mengidap stroke. Dia mampu berdiri. Apalagi berjalan. Ketinggian air di rumahnya mencapai 1 meter.
Relawan BPBD Kudus dan PMI Kudus mengevakuasi dengan perahu karet. Daryatin dan istrinya, Satini dibawa dievakuasi ke SD 1 Temulus. Kepala Puskesmas Mejobo Emy Ruyanah mengatakan, warga yang dievakuasi itu, kondisi kesehatannya akan dipantau setiap hari. Termasuk siap merujuk ke rumah sakit jika diperlukan. (gal/lin) Editor : Ali Mustofa