Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus kirab dimulai sekitar pukul 14.00 dari lapangan desa setempat. Sekitar pukul 15.00 hujan deras es turun. Hujan itu berlangsung sekitar 30 menitan.
Meski hujan peserta kirab tetap berjalan dan menikmati guyuran hujan deras. Antusiasme terlihat pada penonton. Masyarakat yang tiba tetap asyik menyaksikan kirab Ampyang Maulid.
Sudarmaji warga Desa Mlati Lor mengaku sering datang menyaksikan kirab Ampyang Maulid. Ia kemarin melihat kirab beserta dua anaknya.
Saat itu memang terjadi hujan deras. Kepala kedua anaknya terkena hujan es saat menyaksikan kirab.
"Tetap nonton , kan even tahunan. Rasanya seperti terkena kerikil," ungkapnya.
Sementara itu Ketua Panitia Ampyang Maulid Anis Aminuddin menyatakan penyelenggaraan acara pada tahun ini berlangsung meriah. Ada sekitar 40 peserta yang mengikuti kirab tersebut.
"Dua tahun lalu digelar secara sederhana, karena pandemi," ungkapnya.
Dalam kegiatan Ampyang Maulid ini memvisualisasikan tokoh atau sesepuh Desa Loram Kulon. Tokoh tersebut berperan dalam menyebarkan agama Islam, seperti Sultan Hadirin, Kiai Gulang, Kiai Loram, dan lainnya.
"Kami menampilkan pula tradisi manten yang muter di Masjid Wali. Juga membagikan gunungan nasi kepal kepada masyarakat," katanya.
Tradisi Ampyang Maulid ini bertujuan sebagai media dakwah kepada masyarakat. Hal ini adalah bentuk cara memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Lebih jauh, tradisi Ampyang Maulid dijadikan sebagai pembelajaran untuk meneladani sifat dan karakter Nabi Muhammad. Atau menerapkan sunah Nabi Muhammad di kehidupan sehari-hari.
"Tradisi ini juga membuat warga menjadi guyup rukun," katanya.
Sedangkan tradisi Ampyang Maulid ini sudah berjalan lama tahun 1560-an. Kata Ampyang, sendiri berasal dari sebutan kerupuk yang diartikan menjadi Ampyang oleh masyarakat Desa Loram Kulon. (gal/zen) Editor : Ali Mustofa