Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Strategi BUMDes di Desa Jetiskapuan Kudus Pancing Perhatian Warga lewat Cerita Budaya

Ali Mustofa • Sabtu, 1 Oktober 2022 | 17:33 WIB
STRATEGI: Dosen Politeknik Rukun Abdi Luhur (Poltekun) Kudus M Iqbal Faza yang juga penggagas BUMDes saat memberikan penjelasan mengenai pengelolaan dan pengembangan BUMDes di Gedung PKK Desa Jetiskapuan, Jati, Kudus. (MINAN FOR RADAR KUDUS)
STRATEGI: Dosen Politeknik Rukun Abdi Luhur (Poltekun) Kudus M Iqbal Faza yang juga penggagas BUMDes saat memberikan penjelasan mengenai pengelolaan dan pengembangan BUMDes di Gedung PKK Desa Jetiskapuan, Jati, Kudus. (MINAN FOR RADAR KUDUS)
KUDUS – Ada yang berbeda dengan pengelolaan BUMDes di Desa Jetiskapuan. Pasalnya, pihak desa mengangkat cerita budaya dan histrorical dari produk BUMDes yang dihasilkan. Dengan begitu, hal tersebut diupayakan dapat menarik perhatian warga.

Kepala Desa Sudirno mengatakan mempunyai produk BUMDes berupa Umbul Air Minum. Umbul air sendiri tidak semua tempat ada. Produk itu sendiri biasanya sudah dipasarkan dengan menggunakan drum. “Bisa diangkat secara folklore, dibranding sejarahnya. Tentang bagaimana awal mula bisa ditemukan umbul sumber air di situ,” jelasnya.

Direktur BUMDes Agus Purwanto mengatakan hampir tiga bulan BUMDes berjalan dan masih banyak yang perlu dibenahi. Setidaknya ada tiga sektor usaha yang dijalani yakni Umbul Air Minum, PDAM, dan mengenai sampah yang masih terus pihaknya kembangkan.

Muhammad Iqbal Faza selaku penggagas BUMDes menyebut produk Umbul Air akan meningkat nilai ekonomisnya.

“Dalam bisnis sumber daya, air sebagai sumber kehidupan. Jangan sampai nilai jualnya tidak berbanding dengan kerusakan eksploitasinya,” katanya.

Terkait masalah sampah dalam hal pengolahannya, dia menekankan yang perlu ditingkatkan pemilah sampah. Dengan begitu sistem yang akan dibuat sebagai alat penyokong teknisnya lebih mudah dijalankan.

"Buat strategi jangka menengah atau panjang, misalnya 10-20 tahun karena prosesnya sampai jadi produk siap minum dan bisa diedarkan butuh waktu dan perencanaan yang matang," jelasnya.

Diketahui, untuk meningkatkan nilai produk dan stategi pengolahan BUMDes, KKN-IK bekerja sama dengan BUMDes Jetiskapuan mengadakan Seminar Pengolahan dan Pengembangan BUMDes. (ark/mal)

  Editor : Ali Mustofa
#BUMDes Desa Jetiskapuan #cerita budaya #perhatian warga #Pengembangan BUMDes #Kudus